Pemilu 2009, Sangat Mengkhawatirkan
Sabtu, 04 April 2009
[JAKARTA] Organisasi kemahasiswaan menilai Pemilu 2009 merupakan pemilu yang paling mengkhawatirkan mengingat dari sisi kinerja Komisi Pemilihan Umum (KPU) masih memunculkan beberapa permasalahan seperti daftar pemilih tetap (DPT), pengadaan logistik dan surat edaran dana kampanye yang dikhawatirkan menguntungkan partai politik (parpol) yang memiliki modal besar.
Pemilu kali ini pun dinilai rawan gugatan dari peserta pemilu karena peraturan KPU yang sering berubah dan sosialisasi tergolong minim terkait cara memberikan tanda di surat suara. Secara teknis, sosialisasi yang minim itu juga memicu potensi golongan putih (golput) atau suara pemilih dinyatakan tidak sah.
Pandangan itu diungkapkan dari gabungan organisasi kemahasiswaan yang datang ke KPU, Jumat (3/4).
Hadir dalam pertemuan tersebut yakni Mohammad Rodli Kaelani dari Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB-PMII), Rendra Valentino dari Presidium Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Arip Mustopha dari Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI), Tommy Djematu dari Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP-PMKRI), Rusli Fadli dari Dewan pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP-IMM), Memberob Rumakiek dari Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP-GMKI), Rahman Thoba dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).
"Sengketa pemilu banyak akan terjadi baik secara institusi maupun lembaga yang kecewa dengan hasil pemilu," ujar Rodli.
Menurut dia, organisasi kemahasiswaan ini menilai ada kekhawatiran potensi konflik baik secara horizontal antar kelompok masyarakat yang termobilisasi maupun secara vertikal dalam bentuk sengketa pemilu yang diprediksi akan banyak terjadi.
Sedangkan Rusli dari IMM menilai pintu masuk gugatan terhadap Pemilu 2009 adalah peraturan KPU yang sering berubah, ketidakjelasan DPT dan sosialisasi KPU yang minim. Padahal, pada Pemilu 2009 ini ada perubahan cara pemberian suara yang membutuhkan sosialisasi yang gencar.
Sedangkan Tommy dari PMKRI menilai pemilu saat ini menggelisahkan karena banyaknya keluhan terhadap pengadaan logistik pemilu di daerah-daerah serta munculnya permasalahan DPT justru menjelang pelaksanaan pemilu.
Menanggapi hal itu, Anggota KPU Syamsulbahri, meminta semua pihak mendukung pelaksanaan pemilu. [L-10]
[JAKARTA] Organisasi kemahasiswaan menilai Pemilu 2009 merupakan pemilu yang paling mengkhawatirkan mengingat dari sisi kinerja Komisi Pemilihan Umum (KPU) masih memunculkan beberapa permasalahan seperti daftar pemilih tetap (DPT), pengadaan logistik dan surat edaran dana kampanye yang dikhawatirkan menguntungkan partai politik (parpol) yang memiliki modal besar.
Pemilu kali ini pun dinilai rawan gugatan dari peserta pemilu karena peraturan KPU yang sering berubah dan sosialisasi tergolong minim terkait cara memberikan tanda di surat suara. Secara teknis, sosialisasi yang minim itu juga memicu potensi golongan putih (golput) atau suara pemilih dinyatakan tidak sah.
Pandangan itu diungkapkan dari gabungan organisasi kemahasiswaan yang datang ke KPU, Jumat (3/4).
Hadir dalam pertemuan tersebut yakni Mohammad Rodli Kaelani dari Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB-PMII), Rendra Valentino dari Presidium Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Arip Mustopha dari Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI), Tommy Djematu dari Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP-PMKRI), Rusli Fadli dari Dewan pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP-IMM), Memberob Rumakiek dari Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP-GMKI), Rahman Thoba dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).
"Sengketa pemilu banyak akan terjadi baik secara institusi maupun lembaga yang kecewa dengan hasil pemilu," ujar Rodli.
Menurut dia, organisasi kemahasiswaan ini menilai ada kekhawatiran potensi konflik baik secara horizontal antar kelompok masyarakat yang termobilisasi maupun secara vertikal dalam bentuk sengketa pemilu yang diprediksi akan banyak terjadi.
Sedangkan Rusli dari IMM menilai pintu masuk gugatan terhadap Pemilu 2009 adalah peraturan KPU yang sering berubah, ketidakjelasan DPT dan sosialisasi KPU yang minim. Padahal, pada Pemilu 2009 ini ada perubahan cara pemberian suara yang membutuhkan sosialisasi yang gencar.
Sedangkan Tommy dari PMKRI menilai pemilu saat ini menggelisahkan karena banyaknya keluhan terhadap pengadaan logistik pemilu di daerah-daerah serta munculnya permasalahan DPT justru menjelang pelaksanaan pemilu.
Menanggapi hal itu, Anggota KPU Syamsulbahri, meminta semua pihak mendukung pelaksanaan pemilu. [L-10]
Sumber : ..............
Apa Bedanya AKU ?
Seorang bandit pembunuh penzina perampok penculik pecandu narkoba
penyelundup pemerkosa pemabuk, wis pokok’e kabeh kriminal kuadrat
pangkat dua, dijatuhi vonis hukuman mati.
Si terhukum memohon ampun, tetapi Jaksa tetap menuntut hukuman
maksimal, yaitu mati. Hakim pun mengetuk palu sidang sambil berkata,
“Tiada ampun bagimu”. Permohonan grasinya pun ditolak Presiden.
Menjelang eksekusi esoknya, malam-malam di sel isolasi dia berdoa
dengan khusyuk : “Ya Allah ya Tuhanku … ampunilah dosa-dosa hambaMu
ini, baik dosa yang aku ketahui maupun yang tidak kuketahui …”.
Allah swt mengabulkan doanya. Para malaikat protes, “Ya Allah, Tuhan
kami … mengapa Engkau mengampuni bajingan yang dosanya seabrek-abrek
itu.”
Allah swt berfirman : “Kalian tau apa ?!. Jika Aku tidak mengampuni
dia, lalu apa bedanya Aku dengan mereka (Jaksa, Hakim, Presiden) ?”
Read More...
penyelundup pemerkosa pemabuk, wis pokok’e kabeh kriminal kuadrat
pangkat dua, dijatuhi vonis hukuman mati.
Si terhukum memohon ampun, tetapi Jaksa tetap menuntut hukuman
maksimal, yaitu mati. Hakim pun mengetuk palu sidang sambil berkata,
“Tiada ampun bagimu”. Permohonan grasinya pun ditolak Presiden.
Menjelang eksekusi esoknya, malam-malam di sel isolasi dia berdoa
dengan khusyuk : “Ya Allah ya Tuhanku … ampunilah dosa-dosa hambaMu
ini, baik dosa yang aku ketahui maupun yang tidak kuketahui …”.
Allah swt mengabulkan doanya. Para malaikat protes, “Ya Allah, Tuhan
kami … mengapa Engkau mengampuni bajingan yang dosanya seabrek-abrek
itu.”
Allah swt berfirman : “Kalian tau apa ?!. Jika Aku tidak mengampuni
dia, lalu apa bedanya Aku dengan mereka (Jaksa, Hakim, Presiden) ?”
Flu Burung Ternyata Rekayasa Senjata Biologi AS & WHO
Anda betul, kalau sekedar melihatnya sebagai sebuah informasi, berita ini memang bisa disebut basi. Kebetulan, beberapa hari lalu ada lagi yang mempostingnya di salah satu milis yang beranggotakan organisasi besar macam Walhi, INFID, Soliritas Perempuan, dan aktivis gerakan sosial lainnya. Ga mungkin kan mereka tidak pernah tahu tentang ini setahun yang lalu. Saya memasukkannya ke milis ini sebagai pemantik diskusi saja.
Saya mencatat perdebatan sebelumnya mengenai issue ini terakhir kali terjadi di milis Ida Arimurti and Friends pada Februari 2008, milis Jurnalisme pada Agustus 2008, milis Lingkar Ilmuwan Sosial Indonesia pada Maret 2009, dan milis KAFISIPOLGAMA pada Februari 2008. Banyak milis lain juga mendiskusikannya.
Ia kembali menjadi perbincangan menarik seminggu terakhir ini. Sebabnya antara lain untuk menunjukkan bahwa buku yang ditulis oleh menteri rekomendasi buya Syafi'i Ma'arif dari kalangan Muhammadiyah ini masih layak untuk dibaca. Dan tentunya issue-nya tak boleh dilupakan begitu saja. Sama halnya sangat tidak layak merayakan kemenangan Indonesia dalam proses arbitrase kasus divestasi penambangan Newmont di NTB beberapa hari lalu, seperti yang dilakukan oleh Menteri Pertambangan dan Energi.
Milis kita ini beranggotakan orang-orang dengan latar belakang yang beragam:PNS, pejabat pemerintah, dosen, mahasiswa, pelajar SMP, aktivis gerakan sosial atau pekerja sosial, ahli peternakan, ahli pertanian, farmasi/apoteker, Guru Besar, pengamat sosial politik, bahkan dokter macam Tun "Akbar" Jang sendiri. Adalah sebuah keniscayaan bahwa isi kepala kita semua berbeda dalam menanggapi satu hal. Karena itulah, berdiskusi dengan perbedaan pandangan sejatinya merupakan pengayaan akan pengetahuan dengan perspektif yang beraneka.
Saya sendiri memandang persoalan Siti Fadilah ini sebagai salah satu skenario penetrasi kapital. Menginjak tahun 2000-an, masyarakat dihebohkan dengan impor paha dan sayap ayam dari Amerika. MUI sempat menyatakan kalau barang-barang itu haram. Alasannya bersandar pada pemotongan hewan itu yang tidak "atas nama Allah". Peternak risau sebab hal ini merugikan peternak lokal (dalam negeri) yang usaha mereka jadi merugi. Di bulan April 2002, Majalah Tempo (http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2002/04/22/EB/mbm.20020422.EB78796.id.html) berhasil mendapatkan penjelasan lain, bahwa sesungguhnya paha bagian bawah dan sayap dari ayam-ayam yang hanya berumur sebulan itu merupakan tempat penumpukan bahan-bahan kimia dari pakannya. Tidak sehat dikonsumsi, tetapi promosi Pahe (paket hemat) dari gerai makanan cepat saji di tanah air dengan gencar menyerang masyarakat budaya pop Indonesia. Mereka adalah muara akhirnya. Di negeri Paman Sam, bagian tubuh ayam itu ditolak oleh konsumen, tetapi karena tetap ingin mengeruk keuntungan, maka negara-negara dengan pemerintah dungu dan tamak macam Indonesia ini adalah pangsa pasar yang menggiurkan.
Hubungannya dengan flu burung? Bisa jadi untuk menyatakan bahwa ayam lokal tidak tahan penyakit dan itu akan menyebabkan arus masuk daging ayam dari negara-negara penjajah itu semakin deras. Atau, kalaupun mau beternak ayam, maka sebaiknya mengimpor bibitnya dari negara pembuat skenario yang hanya sekali hidup saja, dan harus mendapat bibitnya dengan terus membeli dengan harga mahal. Peternak kecil tak akan pernah mampu untuk menjadi pemasok kebutuhan masyarakat. Lalu, berkuasalah perusahaan-perusahaan asing itu di sini.
Di tahun 2005, beberapa petani di Nganjuk, Jawa Timur, dituntut lewat pengadilan karena menanam ulang bibit pertaniannya (kalau tak keliru jagung), yang semula berasal dari perusahaan asing yang memegang hak patennya. Percy Schmeiser, seorang petani dari Saskatchewan, Kanada, juga menghadapi pengadilan karena menanam bibit kanola dengan masalah serupa. Peristiwa ini terjadi pada 2001 dan membuatnya menjadi terkenal dan membuat semua orang sadar betapa kejamnya kapitalisme. Untuk memahami Kapitalisme dengan bahasa sederhana, serta cerita-cerita menarik berkaitan dengannya, Anda dapat membaca Jurnal Wacana edisi 19, tahun VI tahun 2005, yang mengangkat tema "Kuasa Korporasi: Dari Homogenisasi Rasa sampai Hegemoni Pikiran".
Mengenai senjata kimia, sangat mungkin yang dikatakan oleh Siti Fadilah itu benar. Dan kita mesti mengingat terus bagaimana AS dan sekutunya menuduh Irak dan Afganistan telah mengembangkan senjata demikian sebagai salah satu alasan untuk melakukan invasi. Padahal, seperti yang dutulis oleh Naomi Klien (http://www.naomiklein.org/main) dalam bukunya The Shock Doctrine: The Rise of Disaster Capitalism, invasi itu sesungguhnya merupakan tahap awal upaya penguasaan kapitalis terhadap kekayaan alam di kedua negara itu. Di Indonesia sendiri, sebagai contoh, Exxon Mobil telah menguasai gas alam di Aceh sejak 1967 dan sekarang masih diteruskan dengan minyak di blok Cepu, Jawa Timur .
Beginilah dunia saat ini. Dari dulu hingga kini, penjajahan selalu berjalan dalam wujudnya yang semakin disamarkan. Dalam kasus ini, seperti kata ibu Meike, keberanian Siti Fadilah Supari patut kita teladani. Keberanian melawan tirani.
Anda punya pendapat apa tentang ini, pak dokter
Read More...
Saya mencatat perdebatan sebelumnya mengenai issue ini terakhir kali terjadi di milis Ida Arimurti and Friends pada Februari 2008, milis Jurnalisme pada Agustus 2008, milis Lingkar Ilmuwan Sosial Indonesia pada Maret 2009, dan milis KAFISIPOLGAMA pada Februari 2008. Banyak milis lain juga mendiskusikannya.
Ia kembali menjadi perbincangan menarik seminggu terakhir ini. Sebabnya antara lain untuk menunjukkan bahwa buku yang ditulis oleh menteri rekomendasi buya Syafi'i Ma'arif dari kalangan Muhammadiyah ini masih layak untuk dibaca. Dan tentunya issue-nya tak boleh dilupakan begitu saja. Sama halnya sangat tidak layak merayakan kemenangan Indonesia dalam proses arbitrase kasus divestasi penambangan Newmont di NTB beberapa hari lalu, seperti yang dilakukan oleh Menteri Pertambangan dan Energi.
Milis kita ini beranggotakan orang-orang dengan latar belakang yang beragam:PNS, pejabat pemerintah, dosen, mahasiswa, pelajar SMP, aktivis gerakan sosial atau pekerja sosial, ahli peternakan, ahli pertanian, farmasi/apoteker, Guru Besar, pengamat sosial politik, bahkan dokter macam Tun "Akbar" Jang sendiri. Adalah sebuah keniscayaan bahwa isi kepala kita semua berbeda dalam menanggapi satu hal. Karena itulah, berdiskusi dengan perbedaan pandangan sejatinya merupakan pengayaan akan pengetahuan dengan perspektif yang beraneka.
Saya sendiri memandang persoalan Siti Fadilah ini sebagai salah satu skenario penetrasi kapital. Menginjak tahun 2000-an, masyarakat dihebohkan dengan impor paha dan sayap ayam dari Amerika. MUI sempat menyatakan kalau barang-barang itu haram. Alasannya bersandar pada pemotongan hewan itu yang tidak "atas nama Allah". Peternak risau sebab hal ini merugikan peternak lokal (dalam negeri) yang usaha mereka jadi merugi. Di bulan April 2002, Majalah Tempo (http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2002/04/22/EB/mbm.20020422.EB78796.id.html) berhasil mendapatkan penjelasan lain, bahwa sesungguhnya paha bagian bawah dan sayap dari ayam-ayam yang hanya berumur sebulan itu merupakan tempat penumpukan bahan-bahan kimia dari pakannya. Tidak sehat dikonsumsi, tetapi promosi Pahe (paket hemat) dari gerai makanan cepat saji di tanah air dengan gencar menyerang masyarakat budaya pop Indonesia. Mereka adalah muara akhirnya. Di negeri Paman Sam, bagian tubuh ayam itu ditolak oleh konsumen, tetapi karena tetap ingin mengeruk keuntungan, maka negara-negara dengan pemerintah dungu dan tamak macam Indonesia ini adalah pangsa pasar yang menggiurkan.
Hubungannya dengan flu burung? Bisa jadi untuk menyatakan bahwa ayam lokal tidak tahan penyakit dan itu akan menyebabkan arus masuk daging ayam dari negara-negara penjajah itu semakin deras. Atau, kalaupun mau beternak ayam, maka sebaiknya mengimpor bibitnya dari negara pembuat skenario yang hanya sekali hidup saja, dan harus mendapat bibitnya dengan terus membeli dengan harga mahal. Peternak kecil tak akan pernah mampu untuk menjadi pemasok kebutuhan masyarakat. Lalu, berkuasalah perusahaan-perusahaan asing itu di sini.
Di tahun 2005, beberapa petani di Nganjuk, Jawa Timur, dituntut lewat pengadilan karena menanam ulang bibit pertaniannya (kalau tak keliru jagung), yang semula berasal dari perusahaan asing yang memegang hak patennya. Percy Schmeiser, seorang petani dari Saskatchewan, Kanada, juga menghadapi pengadilan karena menanam bibit kanola dengan masalah serupa. Peristiwa ini terjadi pada 2001 dan membuatnya menjadi terkenal dan membuat semua orang sadar betapa kejamnya kapitalisme. Untuk memahami Kapitalisme dengan bahasa sederhana, serta cerita-cerita menarik berkaitan dengannya, Anda dapat membaca Jurnal Wacana edisi 19, tahun VI tahun 2005, yang mengangkat tema "Kuasa Korporasi: Dari Homogenisasi Rasa sampai Hegemoni Pikiran".
Mengenai senjata kimia, sangat mungkin yang dikatakan oleh Siti Fadilah itu benar. Dan kita mesti mengingat terus bagaimana AS dan sekutunya menuduh Irak dan Afganistan telah mengembangkan senjata demikian sebagai salah satu alasan untuk melakukan invasi. Padahal, seperti yang dutulis oleh Naomi Klien (http://www.naomiklein.org/main) dalam bukunya The Shock Doctrine: The Rise of Disaster Capitalism, invasi itu sesungguhnya merupakan tahap awal upaya penguasaan kapitalis terhadap kekayaan alam di kedua negara itu. Di Indonesia sendiri, sebagai contoh, Exxon Mobil telah menguasai gas alam di Aceh sejak 1967 dan sekarang masih diteruskan dengan minyak di blok Cepu, Jawa Timur .
Beginilah dunia saat ini. Dari dulu hingga kini, penjajahan selalu berjalan dalam wujudnya yang semakin disamarkan. Dalam kasus ini, seperti kata ibu Meike, keberanian Siti Fadilah Supari patut kita teladani. Keberanian melawan tirani.
Anda punya pendapat apa tentang ini, pak dokter
Pasca Tsunami : Tuntutlah Penghapusan Utang
Terasa aneh dan ironis pada saat Kanselir Jerman Gerhard Schroeder
mengajak 19 kreditor Negara anggota Paris Club memberikan moratorium
utang dan Pemerintah Inggris “mendesak para mitranya di G8 untuk
menghapus (sebagian) utang Indonesia serta Negara-negara korban gempa
dan tsunami” (Kompas, 4/1/2005), reaksi Pemerintah Indonesia sendiri
terkesan “setengah hati”.
Seusai mendampingi Presiden SBY, Menlu Hassan Wirajuda, misalnya,
mengatakan, “Indonesia tidak akan meminta rescheduling utang karena
posisinya saat ini sudah bagus dan taat membayar utang.” Ketika itu
Menlu Hassan juga mengatakan, Indonesia tidak akan meminta penghapusan
utang meskipun posisi Negara ini kesulitan keuangan untuk
merehabilitasi pascagempa dan tsunami akhir tahun 2004 (Bisnis
Indonesia, 3/1/2005).
Beberapa Negara seperti : Kanada, AS, Italia, dan Perancis, sudah
mengatakan dukungan atas usulan moratorium utang, sementara Inggris
sendiri ‘optimistis’ bisa mencapai kesepakatan dengan para mitranya
“soal penghapusan sebagian utang sebagai bagian dari paket keseluruhan
bantuan finansial jangka panjang (Kompas, 4/1/2005). Saatnyalah
Pemerintah Indonesia lebih proaktif untuk tidak menunggu, seperti yang
diungkapkan Menkeu Jusuf Anwar bahwa “Pemerintah tidak akan meminta …,
kecuali diberi”. Kecemasan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan
Nasional/Kepala Bappenas Sri Mulyani Indrawati berkaitan dengan
turunnya peringkat utang Indonesia juga terasa aneh dan berlebihan.
Beban utang Indonesia yang mencapai US$ 134,85 milyar (LN dan
Domestik), atau lebih dari 60% GDP dan defisit budget APBN sebesar
lebih dari US$ 3 milyar, memang membuat ruang yang dimiliki Negara
untuk melakukan pembangunan sangat terbatas. Laporan World Bank yang
dimuat dalam “Global Development Finance” tahun 2000 memang
menempatkan Indonesia dalam kategori Severely Indebted Low Income
Country (SILIC), berada satu kelompok dengan Negara-negara TERMISKIN
dunia seperti Mali, Malawi, dan Ethiopia. Klasifikasi tersebut
dilakukan sebelum bencana di Aceh dan Sumatera Utara.
Pascakrisis Asia, Indonesia cukup lama “dipaksa” menjalankan
Structural Adjustment Program (SAP) godokan IMF. Implikasinya, nilai
nominal cicilan utang umumnya menjadi jauh lebih BESAR ketimbang
alokasi dana untuk pengurangan kemiskinan.
Menurut hitung-hitungan kasar, setiap harinya Indonesia harus
menyisihkan US$ 2,5 juta untuk membayar bunga utang kepada lembaga
keuangan internasional., sementara 33,17 juta orang atau setara dengan
14,87% jumlah penduduk Indonesia, masih hidup di (bawah) garis
kemiskinan (Kompas, 3/3/2009). Puluhan juta manusia di Tanah Air
seakan dirampas kesempatannya memperbaiki hidup karena Pemerintah
diharuskan mencicil utang LN-nya.
Seusai bencana tsunami, bisa dipastikan bahwa jumlah kaum papa bakal
meningkat tajam karena dana Pemerintah bakal terserap untuk
pembangunan kembali berbagai infrastruktur yang rusak. Belum lagi
jumlah PHK akibat Krisis Perekonomian Global di Bidang Hubungan
Industrial, yang sudah mencapai 37.905 buruh (Kompas, 6/3/2009).
Pemerintah Indonesia mendapat pinjaman siaga senilai US$ 2 milyar dari
World Bank. Tambahan komitmen itu menjadikan total pinjaman siaga yang
dapat dihimpun untuk mengatasi Krisis Perekonomian Global mencapai US$
5,5 milyar.
“Per 31 Januari 2009, total utang Indonesia mencapai Rp 1.667 trilyun
atau 30% lebih dari GDP. Utang tersebut berupa pinjaman Rp 740 trilyun
dan surat berharga Rp 920 trilyun”, kata Sri Mulyani (Kompas,
5/3/2009).
Dian Kartika Sari, Deputi Direktur INFID, mengatakan, upaya Pemerintah
mengatasi krisis dengan menyepakati utang sebesar US$ 5,5 milyar
justru bisa menciptakan krisis baru. Kebijakan utang ini, antara lain,
akan berdampak pada melonjaknya jumlah kemiskinan dan pengangguran.
Besar kemungkinan Indonesia akan mengalami Negara gagal bayar meski
Pemerintah mengintensifkan pajak perorangan dan pajak badan (Kompas,
7/3/2009).
Model Jerman
-------------------
Lewat Kesepakatan London tahun 1953, Jerman yang baru bangkit dari
kehancuran Perang Dunia memang memperoleh keringanan berupa
penghapusan sebagian (besar) utang LN-nya. Yang patut dicatat adalah
bahwa penghapusan utang tidak seperti yang dikhawatirkan Pemerintah
kita, tidak menurunkan peringkat utang atau kredibilitas suatu Negara.
Perunding Jerman, Josef Abs, dalam otobiografinya “Entscheidungen 1949
– 1953” menulis bahwa “regulasi penghapusan sebagian besar utang LN
Jerman tidak hanya menaikkan kredibilitas, tetapi juga mengembalikan
kepercayaan internasional kepada Jerman”. Tak heran bila sejarawan
Ernst Tauber berkesimpulan bahwa Kesepakatan London tidak hanya telah
menjadi salah satu faktor penentu dalam pembangunan ekonomi Jerman
yang porak poranda akibat keterlibatannya dalam Perang Dunia, tetapi
juga menjadi acuan dalam penataan kembali “hubungan utang-piutang”
internasional di masa depan.
Hasil terpenting dari Kesepakatan London 1953 adalah penghapusan utang
LN nominal Jerman sebanyak 51,5%. Selain itu, disepakati berbagai
kemudahan dan penjadwalan ulang utang, yaitu (a) penurunan tingkat
suku bunga utang sebesar 25% dan (b) selama masa tersebut, nilai total
utang dan bunga yang harus dicicil per tahun ditetapkan “hanya”
sebesar 38% dari tuntutan semula.
Eloknya, Model Jerman ini diberlakukan pada Pemerintahan Orde Baru
rezim Soeharto. Konsep yang diajukan Josef Abs, seperti dalam kasus
Jerman, juga berorientasi pada kemampuan riil ekonomi Indonesia waktu
itu. Ia mengusulkan penghapusan utang LN sebesar 57%. Setelah
mengalami berbagai hambatan, khususnya keberatan Negara kreditor,
konsep Abs akhirnya disepakati pada 24 April 1970.
Seperti halnya Kesepakatan London, Paris Club ini juga telah banyak
membantu perkembangan ekonomi Negara berkembang sebagai Negara
pengutang. Dalam studinya, sebuah lembaga Jerman (Deutsche Stiftung
Fuer Internastional Entwicklung, 1987) berkesimpulan bahwa dua kasus
tersebut harus menjadi model acuan dalam upaya mengatasi utang LN di
banyak Negara berkembang saat ini.
Argumentasi paling menyentuh diberikan beberapa organisasi masyarakat
Eropa. Selama setiap hari, ribuan orang, termasuk anak-anak di Aceh,
Sumatera Utara, dan beberapa tempat lainnya yang terkena dampak
tsunami, (terancam) kelaparan, bahkan meninggal dunia akibat
memburuknya kondisi lingkungan dan kesehatan. Selama itu pula uang
Indonesia sebaiknya dipakai untuk membeli makanan, menyembuhkan orang
sakit, dan memberikan perlindungan lainnya. Bukan untuk mencicil utang
LN-nya. Hal yang sama berlaku bagi Negara-negara miskin pengutang
berat yang terkena dampak tsunami (belum lagi dampak Krisis
Perekonomian Global).
Menurut Dirjen Pengelolaan Utang Depkeu Rahmat Waluyanto (beliau ini
alumnus FE UGM seangkatan saya), total pinjaman Pemerintah yang jatuh
tempo 2009, sebesar Rp 73,28 trilyun termasuk pinjaman LN dan utang
dari SBN senilai Rp 38,91 trilyun. Untuk pembayaran bunga utang
ditutup oleh APBN, sementara pelunasan pokok utang ditutup dari
pinjaman LN atau penerbitan SBN (Kompas, 14/3/2009). Artinya, “gali
lubang tutup lubang”.
Kadiv Jaringan dan Kampanye INFID Wahyu Susilo mengatakan,
perkembangan utang Pemerintah sangat mengkhawatirkan. Tingginya nilai
pinjaman Negara akan membuat Indonesia tidak akan terlepas dari
“jerat” utang setidak-tidaknya hingga tahun 2045, satu abad sejak
Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945 (Kompas, 14/3/2009). Malah ada yang
memperkirakan sampai tahun 2056.
Hutang Indonesia per 31 Januari 2009 berjumlah Rp 1.667 trilyun
(Kompas, 5/3/2009) dengan jumlah penduduk 223.066.577 jiwa. Artinya
per orang “ketiban” beban utang sebesar Rp 7.473.105
Artinya, anak cucu cicit kita mewarisi beban kewajiban untuk “nyaur”
utang.
Pemerintah Indonesia memiliki tugas konstitusional melindungi
kehidupan rakyatnya. Tuntutlah penghapusan utang !.
(Sumber : Ketika kawanan burung putih terbang berarakan ke tengah
Banda Aceh, “Bencana Gempa dan Tsunami”, Penerbit PT Kompas Media
Nusantara, Percetakan Victory Jaya Abadi, Cetakan Kedua, Juni 2005)
Tahun Gajah (Maulid Nabi) - 9 Maret 2009
-----------------------------------
Tahun 571, tahun kelahiran Rasulullah saw, dikenal sebagai “Tahun
Gajah”. Peristiwa itu diabadikan dalam Al-Qur’an, yaitu pada surah Al-
Fil.
Lembah Muhassir
-----------------------
“Muhassir” diambilkan dari kata “Hasr” yang berarti “lemah”. Dinamakan
dengan Lembah Muhassir karena tentara gajah Abrahah al-Habasyi tiba-
tiba lemas, dan tidak mampu lagi melakukan perjalanan. Dikatakan pula
bahwa di situlah tempat dimana Allah membinasakan pasukan gajah dan
bala tentara yang ingin menyerang Ka’bah. Oleh karena itu, dalam haji
disunahkan untuk mempercepat jalan atau kendaraan ketika melewati
lembah tersebut dalam perjalanan pulang dari Muzdalifah ke Mina.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir, bahwa Nabi saw ketika sampai di
atau melewati Lembah Muhassir, beliau menggerakkan unta betinanya
(nama untanya : Al-Qashwa’) dan mempercepat sedikit lajunya. Inilah
kebiasaan beliau ketika melewati tempat-tempat dimana Allah menurunkan
adzab dan murkanya atas musuh-musuhNya. Dan di sanalah (Muhassir)
tentara dan pasukan gajah ditimpa adzab oleh Allah, sebagaimana
diceritakan-Nya sendiri. (HR Muslim)
Batas-batas Lembah Muhassir yang terletak antara Muzdalifah dan Mina
ini ditandai dengan rambu-rambu bertuliskan “Wadi Muhassir” (Lembah
Muhassir). Ia termasuk ke dalam wilayah Tanah Suci, tetapi tidak
merupakan masy’ar (tempat ibadah yang dianjurkan dalam manasik haji).
Pasukan Gajah
------------------
Adalah Abrahah al-Habasyi wakil Raja Najasyi Al-Ashsham di Yaman
menyaksikan para kabilah dan orang-orang yang pergi ke Ka’bah untuk
haji dan thawaf. Lalu ia membangun sebuah tempat ibadah tandingan yang
megah untuk mengalihkan perhatian mereka dari Ka’bah. Namun, suatu
ketika, masuklah seorang lelaki dari Bani Kinanah dan menodainya
dengan darah perawan. Hingga membuat Abrahah murka dan memerintahkan
bala tentara bergajah dalam jumlah yang sangat besar untuk
menghancurkan Ka’bah. Ketika sampai di lembah Muhassir tiba-tiba
panglima gajahnya berlutut, namun setiap kali digerakkan ke arah
selain Ka’bah gajah tersebut langsung berdiri bergegas jalan. Hingga
sampailah saatnya Allah menurunkan burung Ababil yang melempari dengan
batu-batu (yang berasal dari tanah yang terbakar), yang menyebabkan
anggota tubuh mereka terpotong-potong, dan kemudian musnah. Mereka
berlari kabur dan berjatuhan di jalan-jalan. Sedangkan Abrahah, Allah
menurunkan kepadanya suatu penyakit, sehingga ia tidak dapat kembali
ke bangunan tempat ibadahnya, dan tidak juga bisa kembali ke Yaman.
Dadanya terbelah dan hatinya keluar, lalu musnah bagaikan burung-
burung kecil. (Al-Sirah li Ibn Hisyam 1/43, Matsir al-Gharam al-Sakin
151, Syifa’ al-Gharam 1/189)
Peristiwa ini terjadi pada tahun 571, sesaat sebelum kelahiran Nabi
Muhammad saw.
Surah Al-Fil
--------------
Seorang mualaf shalat di masjid. Imam membaca surah Al-Baqarah dan
esoknya surah An-Nahl. Saking “panjangnya” bacaan surah-surah
tersebut, dia bertanya kepada jamaah lainnya.
Mualaf : Eh … Imam kita dua hari ini bacaannya koq panjang-panjang
ya. Apa sih yang dibacanya ?
Jamaah : Kemarin dia baca surah “Al-Baqarah” dan sekarang surah “An-
Nahl”.
Mualaf : Koq panjang ya ?
Jamaah : Al-Baqarah artinya “sapi betina” sedangkan An-Nahl artinya
“lebah”.
Mualaf : Besok Imam kita mau baca surah apa ?.
Jamaah : Kabarnya dia mau baca surah “Al-Fil”.
Mualaf : Apa artinya itu ?
Jamaah : Al-Fil itu artinya “gajah”.
Mualaf : Kalo gitu besok aku enggak ke masjid-lah.
Jamaah : Lho kenapa ?.
Mualaf : Bacaan surah “sapi betina” dan surah “lebah” saja panjangnya
bukan main. Apalagi surah “gajah” … pasti lebih panjang lagi.
(Padahal QS Al-Fil cuma 5 ayat)
Maulid Nabi
----------------
Nabi Muhammad saw lahir dalam suasana keprihatinan, antara lain :
1. Masyarakat Quraisy hidup pada masa yang disebut “jaman
jahiliyah” (kebodohan).
2. Ka’bah luput dari serangan pasukan Abrahah
3. Di dinding Ka’bah masih digantungkan berhala. Di Makkah ada
berhala Lata, ‘Uzza, dan Manah.
“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al-Lata
dan al-‘Uzza dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian”. (QS An-
Najm 19 – 20)
Setelah kota Makkah dapat ditaklukkan, Rasulullah saw mendekati Hajar
Aswad lalu menciumnya, kemudian melaksanakan thawaf di Baitullah.
Beliau memegang busur panah yang dipegang di ujungnya. Ketika sedang
thawaf, beliau melewati sebuah patung berhala yang diletakkan di depan
Baitullah yang biasa disembah oleh orang-orang kafir Makkah, sambil
berjalan melewatinya beliau memukul mata patung tersebut dengan busur
panah sambil berkata :
“Kebenaran telah datang dan kebathilan terhapus. Sesungguhnya
kebathilan itu sesuatu yang pasti lenyap.” (QS Al-Isra’ 81)
Khalid bin Walid yang membelah dua ‘Uzza dengan pedangnya. (‘Uzza =
patung berhala terbesar, berupa wanita hitam telanjang berkepala ular)
[Zad al-Ma’ad 3/186, Ma’alim Makkah al-Tarikhiyyah 187, al-Sirah li
Ibn Hisyam 1/84]
4. Nabi saw memperoleh ASI dari wanita yang bukan ibu kandungnya.
Ketika Nabi saw lahir, kakeknya yaitu Abdul Muthalib memberi nama
“Qustam”, namun ibunya, Aminah, berkata kepada Abdul Muthalib :
“Dalam mimpiku aku diperintahkan untuk memberi nama “Muhammad”. Maka
Abdul Muthalib pun mengumumkan nama cucunya itu dengan nama :
Muhammad. Masyarakat Quraisy merasa heran karena nama itu tidak lazim
di kalangan masyarakat Arab ketika itu. Ketika ditanya tentang hal
itu, Abdul Muthalib menjawab : “Aku berharap agar ia dipuji Tuhan di
langit dan dipuji manusia di bumi”. (dalam bahasa Arab, Muhammad
artinya orang yang terpuji [dipuji]).
Sejak masih bayi, Nabi saw memperoleh ASI dari Halimah binti Abi
Dhu’aib yang berasal dari Bani Sa’ad. Padahal Halimah pada saat itu
juga menyusui bayinya yang bernama Dimrah.
5. Sebagian masyarakat Quraisy masih memandang kelahiran anak
perempuan sebagai hal yang aib dan memalukan. Bahkan mereka tidak
segan membunuh anak perempuannya dengan cara dikubur hidup-hidup,
hanya karena takut nanti mereka akan kehabisan makan karena dimakan
olehnya.
“Barangsiapa yang diberi ibtila’ (cobaan) dengan anak perempuan
kemudian ia berbuat baik pada mereka, maka mereka akan menjadi
penghalang baginya dari api neraka.” (HR Bukhari no 1418 dan Muslim no
2629)
Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak
perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia
menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita
yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan
menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-
hidup) ?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.
(QS An-Nahl 58 – 59)
Dan ketika anak perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena
atas dosa apakah dia dibunuh ?. (QS At-Takwir 8 – 9)
Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan.
Kamilah Yang memberi rezeki kepada mereka dan juga kepada kamu.
Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (QS Al-
Isra’ 31)
Begitulah gambaran “jaman jahiliyah” ketika Nabi saw lahir pada
tanggal 12 Rabi’ul Awal 571.
6. Yang dimaksud dengan “Maulid Nabi” ialah tempat kelahiran beliau.
Rumah tempat kelahiran Nabi saw, kira-kira 100 m dari pintu Babussalam
– halaman Timur Masjidil Haram. Dulu, di tempat kelahiran Nabi
tersebut dibangun masjid oleh al-Khaizuran, yaitu ibu dari khalifah
Harun al-Rasyid pada Dinasti Abbasiyah. Kemudian dihancurkan dan
dibangunlah perpustakaan umum “Maktabah Makkah al-
Mukarramah” (Perpustakaan Makkah) oleh Syaikh Abbas Qatthan pada tahun
1950 dari hartanya sendiri. Waktu saya dan nyonya ‘umrah bulan Mei
2008, tempat itu “sudah rata dengan tanah”, yaitu untuk keperluan
perluasan Masjidil Haram (expansion) 2020.
7. Sejak masih di dalam kandungan Nabi saw sudah menerima takdir
sebagai yatim. Lalu ketika berusia 6 tahun ia genap yatim piatu.
Allah swt berfirman : “Bukankah Dia (Allah) mendapatimu (Muhammad)
dalam keadaan yatim, lalu Dia melindungi(mu) ?” (QS Adh-Dhuha 6)
Nama ayah Nabi saw adalah “Abdullah” (artinya : hamba Allah), nama
yang unik. Pada hakekatnya semua manusia itu sejak Nabi Adam as hingga
hari kiamat adalah “abdullah” – hamba Allah. Subhanallah.
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
mengabdi kepada-Ku. (QS Adz-Dzariyat 56)
8. Etc etc
Perayaan Maulid Nabi di Tanah Air bermacam-macam. Di Yogya ada
Gunungan Grebeg Mulud. Di Masjid At-Taqwa Jakarta ada Gunungan Nasi
Tumpeng. Di Masjid Istiqlal Jakarta ada acara maulid akbar. Di
Gorontalo ada Gunungan juga. Etc etc
Adalah aneh jika ada salah satu Parpol, pada hari maulid, justru
mengadakan “kampanye politik” di RCTI dengan tema “teladan
Rasulullah”. Contrenglah caleg untuk nomor Parpol sekian. Koq ya
sempat-sempatnya … (ngono ya ngono tapi mbok ya ojo ngono lho)
(Sumber : History of Makkah Al Mukarramah, Shaikh Safiur Rahman
Mubarakpuri, translated by Nasiruddin al-Khattab, Maktaba Dar-us-
Salam, Riyadh, First Edition, August 2002)
10 Resep Sukses Bangsa Jepang
-----------------------------------------
1. Kerja keras
2. Malu
3. Hidup hemat
4. Loyalitas
5. Inovasi
6. Pantang menyerah
7. Budaya baca
8. Kerjasama kelompok
9. Mandiri
10. Jaga tradisi
Humor Aceh vs Batak
----------------------------
Ada orang Aceh pergi ke Medan dengan menumpang bus “Pelangi”. Sampai
di Terminal Pinang Baris, Sunggal, Medan, dia menyetop taksi yang
dikemudikan oleh orang Batak.
Sopir Batak : Mau kemana Teungku ?
Orang Aceh : Antarkan aku ke Jalan Raja
Sopir Batak : Siap Teungku
Sopir taksi langsung tancap gas, raun-raun lewat Medan Plaza, dan
akhirnya sampai di Jalan Sisingamangaraja.
Sopir Batak : Sudah sampe, Teungku
Orang Aceh : Ah, kau ini salah jalan bah !
Sopir Batak : Katanya Jalan Raja. Ini kan Jalan SISINGAMANGARAJA
Orang Aceh : Itu kan Raja kau, bukan Raja aku. Ayo balik … antarkan
aku ke Jalan ISKANDAR MUDA.
Maen Bola Kecil
--------------------
Ada orang Aceh, hobi nonton sepakbola, dua minggu sekali dia pergi ke
Stadion Teladan, Medan, menyaksikan pertandingan sepakbola. Di saku
celananya ada duit Rp 20.000 maksudnya untuk beli ice cream dan roti
tangkup pas istirahat setengah main.
Pas pertandingan sepakbola usai 45 menit, diperiksanya sakunya.
Duitnya hilang. Mulailah dia memaki : “Pukimaknya orang Batak ini,
uang saya dicopet.”
Belum kapok, dua minggu kemudian orang Aceh itu nonton sepakbola lagi.
Kali ini dia lebih “pinter” menyiasati agar tidak kecopetan lagi. Dia
tidak membawa uang sepeser pun. Cuma dia tidak pakai celana dalam, dan
kedua saku celananya digunting hingga “bolong”.
Benar saja, pas pertandingan sepakbola lagi seru-serunya, dia
merasakan ada tangan yang memasuki saku celananya. Karena saku
celananya “bolong”, tangan itu keterusan hingga memegang “barang”-nya.
Secepat kilat lengan orang Aceh mengepit tangan orang Batak, sambil
berkata :
“Ayo, kau sorong terus tanganmu itu, mainkan ‘bola-bola’-ku itu. Kalo
enggak … aku teriak maling nanti.”
Serba Dua Belas
---------------------
Seorang Teungku memasuki sebuah barbershop. Setelah selesai potong
rambut, ia bertanya, harus bayar ongkosnya berapa ?. Tukang cukur
bilang, “Tak usah, saya niatkan shadaqah untuk pendakwah …”. Keesokan
harinya dia memperoleh 12 buku himpunan doa dan secarik kertas pesan
terima kasih. Tukang cukur itu pun tersenyum senang.
Lusanya, seorang anggota Polri datang untuk cukur rambut dan bertanya
berapa ongkosnya. Tukang cukur berkata, “Tak usah, saya niatkan untuk
pelayanan dan pengayom kepada masyarakat …”. Keesokan harinya dia
menerima kiriman 12 potong donat dan secarik kertas pesan terima kasih
dari Polisi untuknya. Ia pun tersenyum senang.
Esoknya lagi, datang seorang anggota TNI bercukur dan menanyakan
berapa ongkosnya. Tukang cukur bilang, “Tak usah, saya niatkan untuk
menjaga pertahanan dan keamanan masyarakat …”. Tak lama kemudian,
datang kiriman 12 pisau cukur baru, dan ia pun bahagia alang kepalang.
Tapi besoknya, datang seorang Pejabat Sipil Birokrasi untuk potong
rambut dan bertanya ongkosnya berapa. Tukang cukur : “Tak usah, saya
niatkan untuk pelayanan dan abdi kepada Negara …”.
Keesokan harinya, datang 12 pejabat sipil lainnya, dan minta dilayani
potong rambut.
Quote :
Jadilah seperti pohon kayu yang lebat buahnya, tumbuh di tepi jalan.
Dilempar buahnya dengan batu, tetapi tetap dibalas dengan buah.
Terima Kasih versi DOM
--------------------------------
Selama 10 tahun (1989 – 1998) NAD dikenal sebagai DOM (Daerah Operasi
Militer), dan ada juga yang mengartikan ‘Darurat Operasi Militer’.
Selama masa DOM, para petinggi militer banyak menerima ‘bingkisan’
dari para toke, yang juga merasa terlindungi usaha bisnisnya di
lingkungan yang masih rawan dan belum kondusif.
Walaupun perwira menyamar dengan berpakaian preman, seorang toke bisa
mengetahui asal kesatuannya ‘hanya’ dengan ucapan terima kasih.
“Terima kasih sebesar-besarnya” (Polri)
“Terima kasih sebanyak-banyaknya” (TNI AD/Koppasus) AD kan yang
paling ‘banyak’
“Terima kasih sedalam-dalamnya” (TNI AL/Marinir)
“Terima kasih setinggi-tingginya” (TNI AU)
“Terima kasih sekurang-kurangnya” (TNI Gadungan) Masih ‘kurang’
bingkisan kon
“Terima kasih secukup-cukupnya” (Hansip/Wanra)
“Thank you beu …” (Orang Aceh asli) Orang Aceh tidak tau berterima
kasih. Makanya sampe sekarang pun tidak ada ucapan “terima kasih”
dalam bahasa Aceh. Hingga detik ini.
Trauma
-----------
Untuk menarik simpati masyarakat dan memberdayakan SDM di Aceh, aparat
militer memberikan sumbangan komputer. Tetapi apa lacur, masyarakat
Aceh membuang semuanya ke Selat Malaka. Kenapa ?. Usut punya usut,
mereka trauma dan tidak mau diperalat lagi. Sebab di CPU komputer
ditemukan tulisan : INTEL Pentium II Inside.
Pengusutan Harta $oeharto Diakhiri
-------------------------------------------------
Perdebatan mengenai asal usul harta $oeharto akhirnya diakhiri,
setelah diketahui ternyata memang $oeharto memperoleh kekayaan untuk
keluarganya, yang berasal dari penghasilan tambahannya sebagai ‘photo
model’, yaitu :
1) 10% Royalty dari mata uang kertas lima puluh ribuan yang
menggunakan photonya.
2) 10% Royalty dari perangko yang beredar dan dikoleksi philatelis
yang menggunakan photonya.
3) 10% Royalty dari penjualan photo Presiden selama 32 tahun.
4) 10% Copyright cetak Kamus Bahasa Indonesia ‘Slang’ dengan kata
kerja yang berakhiran “ken”.
5) 10% Goodwill atas Monumen Serangan Oemoem 1 Maret 1949, Monumen
Jogja Kembali, Stadion Mandala Krida, Museum Satria Mandala, dan
Astana Giri Bangun – Bukit Mangadeg, Yayasan Supersemar, etc.
6) 10% Trademark atas judul film, buku, etc “Pengkhianatan G30S/PKI”.
Hitung-hitung … tanpa dikurangi potongan pajak, ternyata jumlahnya
sesuai dengan daftar kekayaan yang dimilikinya. Maka kasus ditutup.
Saatnya Shalat
-------------------
Persis kayak Trio Bomber Amrozi-Mukhlas-Imam Samudra yang memekikkan
teriakan “Allahuakbar”; kombatan GAM yang bergerilya di hutan kapan
ketemu dengan TNI, mulailah mereka memberitahukan ‘keberadaan’ mereka
dengan teriakan merdu, “Allahuakbar … Allahuakbar !”.
TNI pun gak mau kalah, membalas tapi dengan ucapan ‘sendu’ pelan,
“Allahuakbar … Allahuakbar”. Kemudian TNI berteriak lantang, “Hei …
jangan tanggung, teruskan adzanmu, lanjutkan dengan qamat. Letakkan
senjata, mari kita dirikan shalat berjamaah”.
Luput
--------
Helicopter MI 2 berputar di ketinggian 500 m di atas lokasi rekreasi
air terjun Blang Kolam, salah satu markas GAM. Dari atas, TNI
melempari puluhan granat sambil menghujani rentetan tembakan senapan
mesin kaliber 7,62mm ke sebuah bangunan pondok, yang dianggap sebagai
markas tempat persembunyian GAM. Tapi bangunan pondok beratap pelepah
rumbia itu masih tetap utuh.
“Mampus kowe GAM !”, teriak pilot helicopter.
Di bawah, dari balik kerimbunan pepohonan, keluar salah seorang
anggota GAM, cuma pake celana pendek, mendongak ke arah helicopter,
“Hei goblok kamu … yang kena tadi cuma kandang ayam, tauk !”,
teriaknya.
Hadiah Uang Tunai
-------------------------
Di Mabes Jakarta, seorang Jenderal TNI AD memanggil 3 orang prajurit,
yang berjasa dan dianggap pahlawan setelah bertugas lama di Aceh.
“Karena saat ini bukan benar-benar perang, maka saya tidak memberikan
kalian medali ‘Medal of Honor’. Tapi saya akan tetap memberi Anda
hadiah. Yang harus kalian lakukan adalah, menentukan 2 titik di tubuh
kalian, dan saya akan memberikan Rp 100.000 untuk setiap sentinya.
Kita mulai dari kamu !”, kata Jenderal sambil menunjuk tongkat
komandonya ke arah Prajurit 1.
Prajurit 1 : Siap !. Dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, Pak.
Jenderal : Bagus, 180 senti, kamu berhak mendapatkan Rp 18 juta,
lumayan untuk beli krupuk.
Prajurit 2 : Hormat !. Dari ujung kaki kiri hingga ke ujung jari
kanan, Pak.
Jenderal : Bagus sekali, 185 senti, totalnya Rp 18,50 juta. Cukup
buat beli cemilan.
Prajurit 3 : Sedia !. Dari pundak ke kelingking, Pak.
Jenderal : Aneh, tapi baiklah.
Pada saat sang Jenderal mulai mengukur, “Mana kelingkingmu, Nak ?”
Prajurit 3 : Di Aceh, Pak.
Nama Presiden
--------------------
Selama DOM di Aceh, seorang prajurit Kopassus bertanya kepada anak SD.
“Sebutkan nama-nama Presiden RI yang telah kita miliki”, ujarnya
sambil menggosok SS1 buatan Pindad.
“Soekarno dan Soeharto”, jawab anak SD itu sambil memperhatikan SS1
yang dibeli dengan uang rakyat.
“Lho koq dua, bagaimana dengan Presiden Habibie ?”, balas Kopassus
keheranan.
“Nah, kalo Habibie itu kan ‘Soeharto kecil’, enggak direken”, ucapnya
girang.
Tidak Saya Tahu
---------------------
+ Kopassus (membentak seorang inong desa) : Mana suamimu ?
- Inong (ketakutan) : Hana lon tuho (Tidak saya tahu)
+ Kopassus : Jangan banyak omong !
- Inong : Omong lon hanya dua naleh pade (Sawah saya hanya sedikit)
I’m so Sorry
----------------
Agar TNI tidak salah sasaran dalam menembak, maka diadakanlah invitasi
panahan internasional di Aceh.
Dua peserta sekaligus dari Inggris dan Swiss tampil paling awal,
sasaran tembaknya adalah sebuah apel yang diletakkan di atas kepala
aktivis mahasiswa. Anak panah dilepaskan. Wusssss … tepat menancap
pada apel !. Sorak-sorai para penonton membahana, menyambut kehebatan
sang pemanah. “I’m ROBINHOOD”, kata pemanah Inggris. “I’m WILLIAM/
WILHEM TELL”, lanjut si pemanah Swiss memperkenalkan diri.
Giliran kedua, tampil jago panah asal Amerika Serikat, lebih dahsyat
daripada peserta sebelumnya. Kali ini sasaran tembaknya adalah sebutir
anggur !. Wusssss … anak panah melesat dan menancap tepat di buah
anggur !. Stadion Lampineung seolah bergoyang oleh tempik-sorak para
penonton yang antusias. Sang pemanah segera memperkenalkan diri dengan
bangga, “I’m RAMBO”.
Giliran ketiga, tampil peserta dari Indonesia. Tapi berlainan dengan
ketiga peserta tadi, kali ini sasaran tembaknya agak lumayan GEDE :
buah Semangka. Anak panah pun dilepaskan. Wussss … dan menancap tepat
pada kepala sang aktivis mahasiswa !. Penonton terdiam dengan pekik
tertahan. Dengan kalemnya pemanah memperkenalkan diri, dengan kata
tersendat-sendat, “I’m SORRY”.
Talk Show GPK
--------------------
Untuk mencegah meluasnya pengaruh Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Pangdam
Bukit Barisan dan Pemda Aceh menyelenggarakan talk show yang
menghadirkan Pangdam, Gubernur Aceh, dan Sosiolog sebagai panelis.
Berikut cuplikan acara yang dipandu oleh seorang wartawan
‘senior’ (senang istri orang).
Moderator : Bagaimana pengaruh GAM terhadap situasi keamanan di
Aceh ?
Pangdam : GAM bertanggungjawab atas segala tindakan terror yang
menghadirkan rasa tidak aman bagi rakyat Aceh yang cinta damai.
Gubernur : Benar sekali, karena suasana tidak aman dan tidak kondusif
yang mereka timbulkan, maka banyak investor takut menanamkan
investasinya di Aceh.
Moderator : Sebagai Sosiolog, bagaimana pandangan Anda terhadap
penjelasan Pangdam dan Gubernur tadi ?
Sosiolog : Wah, menarik sekali.
Moderator : Maksudnya ?
Sosiolog : GAM menjadi “kambing hitam”nya Gubernur dan Pangdam yang
gagal menjalankan tugasnya.
Note : Kalo orang Bengkulu biasanya “jago” Bahasa Inggris. Bukankah
Sir Thomas Stanford Raffles pernah mukim di Bengkulu ?.
Lesson 1
----------
A junior manager, a senior manager and their boss are on their way to
a meeting. On their way through a park, they come across a wonder
lamp.
They rub the lamp and a ghost appears.
The ghost says, "Normally, one is granted three wishes but as you are
three, I will allow one wish each"
So the eager senior manager shouted, "I want the first wish. I want to
be in the Bahamas , on a fast boat and have no worries." Pfufffff …
and he was gone.
Now the junior manager could not keep quiet and shouted "I want to be
In Florida with beautiful girls, plenty of food and cocktails."
Pfufffff … and he was also gone.
The boss calmly said, "I want these two idiots back in the office
afterlunch at 12:55pm."
Moral of the story :
"ALWAYS ALLOW THE BOSS TO SPEAK FIRST"
Lesson 2
----------
Standing in front of a shredder with a piece of paper in his hand,
"Listen,"
said the CEO, "this is a very sensitive and important document, and my
secretary has left. Can you make this thing work ?"
"Certainly," said the young executive.
He turned the machine on, inserted the paper, and pressed the start
button.
"Excellent, excellent !" said the CEO as his paper disappeared inside
the shredder machine. "I just need one copy."
Moral of the story :
"NEVER, NEVER ASSUME THAT YOUR BOSS KNOWS EVERYTHING"
Lesson 3
-----------
An American and a Japanese were sitting on the plane on the way to LA
when the American turned to the Japanese and asked, "What kind of -ese
are you ?"
The Japanese confused, replied, "Sorry but I don't understand what you
mean."
The American repeated, "What kind of -ese are you ?"
Again, the Japanese was confused over he question.
The American, now irritated, then yelled, "What kind of -ese are
you ... Are you a Chinese, Japanese, Vietnamese !, etc … ???-"
The Japanese then replied, "Oh, I am a Japanese."
A while later the Japanese turned to the American and asked what kind
of kee was he.
The American, frustrated, yelled, "What do you mean what kind of -kee
am I ?!"
The Japanese said, "Are you a Yankee, donkee, or monkee ?"
Moral of the story :
"NEVER INSULT ANYONE"
Lesson 4
-----------
There were these 4 guys, a Russian, a German, an American and a
French, who found this small genie bottle. When they rubbed the
bottle, a genie appeared.
Thankful that the 4 guys had released him out of the bottle, he said,
"Next to you all are 4 swimming pools, I will give each of you a wish.
When you run towards the pool and jump, you shout what you want the
pool of water to become, then your wish will come true."
The French wanted to start. He ran towards the pool, jumped and
shouted, "WINE".
The pool immediately changed into a pool of wine. The Frenchman was so
happy swimming and drinking from the pool.
Next is the Russian's turn, he did the same and shouted, "VODKA" and
immersed himself into a pool of vodka.
The German was next and he jumped and shouted, "BEER". He was so
contented with his beer pool.
The last is the American. He was running towards the pool when
suddenly he steps on a banana peel. He slipped towards the pool and
shouted, "S_H_I_T !!!!!!!- … -"
Moral of the story :
"THINK TWICE BEFORE YOU SAY SOMETHING, BECAUSE SOMETIMES ACCIDENTS DO
HAPPEN"
Junglish (Jungle English)
What is Junglish ?
Jungle English … like one mentioned as below :
Javelish … The typical Javanese language : ‘lho’, ‘lha’, ‘toh’,
‘kok’, ‘ki’, etc
- ‘Lho’, I already bought that book !
- ‘Kok’, buying again ?
- I told you many times ‘toh’ !
- ‘Lha’, I didn’t know … how ‘ki’ ?
- Don’t be like that, ‘lho’ … ?!
Jakartenglish ?. Jakarte English is marked by the ‘sih’. ‘deh’,
‘dong’, ‘nih’, etc
- That book is very good, ‘deh’.
- Can you speak English ?. Yeah … just a little ‘sih’ I can !
- Use my money first ‘nih’ …
- Give me more ‘dong’ …
- How ‘sih’ ?. Little little angry …
Surobenglish is marked by ‘tah’
-Do you feel sick, ‘tah’ ?
Other exclamation words of Java : ‘wo_’, ‘wah’, ‘we_’, ‘jian’, and
‘je_’.
- ‘We_’ lha this book is mine ‘je’ … !
- ‘Wo_’, only like that toh !
- ‘Wah’, expensive, toh ?
- ‘Jian’, mBak Sri is so beautiful tenan.
Sundanglish is also available such as ‘atuh’, ‘euy’, ‘mah’
- Well, if that kind, it pretty so-so ‘atuh’
- It can’t be that way ‘euy’ …
- I am ‘mah’, not like that … anything else ?
Bataklish is marked by ‘bah’
- Let’s go, ‘bah’ … !
Achenglish is marked by ‘nyan’, ‘jeut’, ‘pat’, ‘hana ubat’
- ‘Nyan’, I have do it !
- ‘Jeut’, I can help you.
- I don’t know, ‘pat’ …
- Incredible !. I don’t believe it … ‘hana ubat’ !
There are also abundant ‘sound effect’ in Javanese language :
- Suddenly, mak bedhengus den Misnan appeared.
- My head feels pain, mak cleng !
- Mak tlepok, I got a banana !
- My chickens is suddenly died, mak cekengkeng.
- Mak gedebug, Kamprete fell down.
- It’s true, mak jegagik … Oh, trondholo !
Palembanglish ?. ‘ladas nian’
- Please speak in English … ‘ladas nian’ !
Can you tell me about BengkulEnglish ?
Indikator Kebahagiaan menurut Ibnu Abbas ra
--------------------------------------------------------------
Abdullah bin Abbas ra adalah salah seorang sahabat Rasulullah saw yang
pernah menjadi gubernur Basrah selama kepemimpinan khalifah Ali bin
Abi Thalib ra. Ibnu Abbas sangat telaten dan melayani Rasulullah SAW,
dimana ia secara khusus berulang-ulang didoakan Rasulullah SAW dengan,
“Ya Allah, berilah ia ilmu agama yang mendalam dan ajarkanlah
kepadanya ta’wil Al-Qur’an”. Selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas
telah hafal Al-Qur’an dan telah menjadi imam di masjid.
Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi’in (generasi sesudah wafatnya
Rasulullah saw), mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia.
Jawab Ibnu Abbas, yang ketika itu belum genap berusia 13 tahun, ada 7
(tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :
1) Qalbun syakirun, hati yang selalu bersyukur.
2) Al-azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang saleh.
3) Al-awladun abrar, yaitu anak yang saleh.
4) Al-biyatu shalihah, yaitu lingkungan yang kondusif dengan iman
kita.
5) Al-malul halal, harta yang halal.
6) Tafakuh fi din, semangat untuk memahami agama.
7) Mubarakah fil ‘umur, yaitu umur yang diberkahi.
Bagaimana caranya agar dikaruniai Allah ke-7 indikator tersebut di
atas ?.
Selain usaha keras untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah
SWT sesering dan se-khusyu’ mungkin membaca doa sapujagat :
Dan di antara mereka ada orang yang berdoa : “Rabbanaa atina fid-dun-
yaa hasanataw wa fil-aakhirati hasanataw wa qina adzaban-nar”. (QS Al-
Baqarah 201)
Itu untuk kebahagiaan di dunia. Sedangkan kelanjutan doa sapujagat “wa
fil-aakhirati hasanataw”, untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat
Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukanlah surga melainkan rahmat Allah,
kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat
Allah. Kita masuk surga bukan karena amal saleh kita, tetapi karena
rahmat Allah. “Ya Ar-hamar Rahimin”.
Kata Rasulullah saw, “Amal saleh yang kalian lakukan tidak bisa
memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya : “Bagaimana
dengan engkau ya Rasulullah ?”. Rasulullah menjawab, “Amal saleh saya
pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau
begitu, dengan apa kita masuk surga ?”. Rasulullah kembali menjawab,
“Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah swt
semata”.
Dan Kami hadapi segala amal yang mereka (yang tidak beriman) kerjakan,
lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (QS Al-
Furqan 23)
Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan
tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS Az-Zumar 65)
Ketika menjadi Gubernur Basrah, Ibnu Abbas ra mengambil 3 perkara dan
meninggalkan 3 perkara, yaitu :
- Menarik hati pendengar apabila ia berbicara.
- Memperhatikan setiap ucapan pembicara.
- Memilih yang teringan apabila memutuskan perkara.
- Menjauhi sifat mengambil muka.
- Menjauhi orang-orang yang rendah budi.
- Menjauhi setiap perbuatan dosa.
Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra menjadikan Ibnu Abbas kawan
bermusyawarah pada setiap urusan penting, dan memanggilnya, “Pemuda
Tua”. Pada suatu hari orang bertanya kepada Ibnu Abbas, “Bagaimana
Anda mendapatkan ilmu ini ?”. Jawabnya, “Dengan lidah yang suka
bertanya dan akal yang suka berpikir”. Maka dengan lidahnya yang
selalu bertanya dan pikirannya yang tidak bosan meneliti, serta dengan
kerendahan hati dan kepandaiannya bergaul, jadilah Ibnu Abbas sebagai
“Kyai Ummat ini”.
(“Para Sahabat dalam Kehidupan Rasul”, Khalid Muhammad Khalid,
Penerbit PT RajaGrafindo Persada, Percetakan Fajar Interpratama
Offset, Cetakan Pertama, Oktober 2000, halaman 580 – 589)
Jamaah NAD Gratis Menginap di Makkah
------------------------------------------------------
Sejak tahun 2006 setiap jamaah haji NAD dibekali selembar kupon (yang
memuat pasfoto 4x6, nomor paspor, nomor kloter, etc) yang telah
ditandatangani oleh Gubernur NAD. Kupon itu selanjutnya di Makkah
ditukarkan dengan uang sebesar SR 2.000 atau cek dalam US$, yaitu
sebagai pengganti uang pemondokan di maktab. Koq enak kali ya ?!.
Sudah menginap gratis dikasih duit lagi.
Begini sejarahnya. Salah satu hartawan dan dermawan Aceh Tgk Haji
Habib Bugak Asyi (Asyi = Aceh, kalo orang Arab bilang) mewakafkan
sebuah rumah di Qusyasyiah (waktu itu antara Marwah dan Ka’bah,
sekarang sudah berada di dalam Masjidil Haram, dekat pintu Babul Al-
Fath). Wakaf tersebut diikrarkan oleh Habib Bugak Asyi pada tahun 1224
H (sekitar tahun 1800 M) di depan Hakim Mahkamah Syar’iyah Makkah pada
waktu itu. Akta Ikrar Wakaf ini disimpan dengan baik oleh Nazhir dan
masih dapat kita baca hingga saat ini.
Di dalam Akta Ikrar Wakaf disebutkan bahwa rumah tersebut diwakafkan
untuk :
- Penginapan orang Aceh yang datang dari Aceh untuk menunaikan ibadah
haji;
- Penginapan orang Aceh yang menetap di Makkah;
sesuai dengan daya tampung rumah tersebut. Sebagai Nazhirnya beliau
menunjuk salah satu ulama asal Aceh yang telah menetap di Makkah, yang
dapat diwariskan secara turun temurun. Nazhir diberi hak untuk memilih
siapa yang akan menempati rumah wakaf, dan diberi hak untuk menyewakan
sebagiannya untuk biaya pengelolaan dan perawatannya.
Waktu perluasan Masjidil Haram tahun 1950-an rumah tersebut masuk ke
dalam proyek, diberi ganti rugi oleh Kerajaan Saudi Arabia; dan Nazhir
membeli penggantinya berupa 2 (dua) buah rumah di Jiad Bir Balilah dan
tetap menempatkan jamaah haji asal Aceh di rumah tersebut.
Sejak tahun 1980-an ketika sistem pengelolaan haji berubah dari sistem
“Syekh” menjadi sistem “Mu’assasah”, rumah wakaf ini tidak lagi
ditempati jamaah haji asal Aceh.
Pada tahun 1420 H (1999 M) Nazhir Syekh Abdul Ghani bin Mahmud bin
‘Abdul Ghani Asyi (generasi keempat pengelola wakaf) mendapat
pengukuhan sebagai Nazhir dari Mahkamah Syar’iyah Makkah. Sejak itu
beliau berusaha mencari investor untuk mengembangkan tanah wakaf ini.
Namun beliau wafat tahun 1424 H (2004 M) sebelum usaha ini berhasil.
Tugas Nazhir dilanjutkan oleh sebuah Tim di bawah pimpinan putra
beliau, Munir bin ‘Abdul Ghani Asyi (generasi kelima).
Alhamdulillah dengan usaha yang gigih dari Nazhir dan Pemerintah
Propinsi Aceh sejak Gubernur Hadi Thayeb (yang melakukan hubungan
formal pertama) sampai Gubernur Mustafa Abubakar (yang menerima
kedatangan rombongan Nazhir di Banda Aceh dan menandatangani MOU),
serta dukungan Menteri Agama Maftuh Basyuni, dan Menteri Haji Arab
Saudi; maka mulai musim haji tahun 1427 H (2006 M) Nazhir Wakaf Habib
Bugak Asyi mengganti uang sewa rumah jamaah haji Aceh selama di Makkah
sebesar “sewa yang telah dibayar Pemerintah Indonesia kepada pemilik
rumah”, yang besarnya berkisar antara SR 1.100 s/d SR 2.000
Selanjutnya Nazhir dengan bantuan investor telah 95% selesai membangun
2 (dua) buah hotel di atas tanah wakaf tersebut. Sebuah bernama FUNDUQ
AJYAD (HOTEL JIAD, 25 lantai, 500 m dari Masjidil Haram) dan sebuah
lagi bernama BURJ AJYAD (MENARA JIAD, 28 lantai, 600 m dari Masjidil
Haram). Kedua Hotel ini dilengkapi dengan pertokoan, lapangan parkir,
ruang rapat, etc; serta direncanakan dapat menampung sekitar 7.000
jamaah pada setiap musim haji. Sesuai dengan perjanjian, investor akan
mengelola Hotel ini selama 20 tahun dan akan kembali kepada Nazhir
pada tahun 1448 H (2028 M).
Nazhir Munir bin ‘Abdul Ghani Asyi (generasi kelima) ini tubuhnya
tinggi, berkaca mata, kulitnya krem; pokoknya sudah enggak keliatan
lagi Acehnya. Benar-benar sosok Arab, warga negara Arab meskipun dia
orang Aceh asli. Malah dia tidak bisa bisa bicara dalam bahasa Aceh,
sehingga harus diterjemahkan oleh Ketua Kloter. Pesan beliau cukup
mengharukan :
“Semoga jamaah haji Aceh yang telah mendapat manfaat dari wakaf ini
bersyukur dengan tulus, tetap menjaga silaturrahim dengan Nazhir,
serta berdoa agar Nazhir tetap memelihara amanah dan mampu mengelola
serta mengembangkan wakaf ini sesuai dengan syarat Wakif, dan Wakif
pun mendapat pahala berlimpah atas amal jariyah yang beliau tanam 200
tahun yang lalu. Kita juga berdoa agar ada orang kaya Aceh sekarang
yang bersedia menyisihkan hartanya sebagai wakaf, guna kesejahteraan
generasi Aceh yang akan datang, baik di tanah Aceh ataupun di tempat
lain. Amin”.
Apa Gunanya Membaca Al-Qur’an ?
------------------------------------------------
Seorang Muslim Amerika yang sudah tua tinggal bersama seorang cucunya
di sebuah ranch di South Kentucky. Sang cucu ingin menjadi seperti
kakeknya, dan menirukan segala gerak-gerik kakeknya. Suatu hari sang
cucu bertanya : “Kek, saya mencoba membaca Al-Qur’an seperti Anda,
tapi saya tidak mengerti, apa yang saya fahami langsung segera
terlupakan begitu saya menutup Kitab Suci itu. Kalau begitu, apa
gunanya membaca Al-Qur’an ?”.
Sang kakek berbalik dari tungku tempat meletakkan batubara, dan
berkata : “Bawa keranjang batubara ini dan ambilkan saya sekeranjang
air di sungai”.
Si cucu segera melaksanakannya, namun air dalam keranjang sudah habis
sebelum dia sampai ke rumah. Kakeknya tertawa dan berkata : “Kamu
harus lebih cepat, coba lagi !”. Dengan tersengal-sengal si cucu
menyampaikan kepada kakeknya, bahwa tidak mungkin membawa air dengan
keranjang. Dia mengusulkan agar diganti dengan timba. Si kakek
berkata : “Kamu tidak boleh menggunakan timba, gunakan keranjang,
kamu kurang berusaha lebih keras”. Kali ini si cucu mencoba bergerak
lebih cepat dan memasukkan keranjang itu dalam-dalam ke dasar sungai,
dan berlari secepat mungkin kembali ke rumah.
Namun kembali terjadi, keranjang sudah kosong sebelum dia sampai di
rumah. “Kek, ini benar-benar tidak berguna !”, serunya. Kakeknya
menjawab : “Kamu pikir tidak berguna ?. Coba lihat keranjangnya !”.
Si cucu memandang keranjang yang dia gunakan, dia sadar bahwa
keranjang itu sudah menjadi lain, keranjang itu sudah berubah dari
sebuah keranjang batubara yang kotor menjadi satu keranjang yang
bersih, di luar dan di dalam.
Kakek berkata : “Cucuku, hal itu akan terjadi juga bila kamu membaca
Al-Qur’an. Kamu bisa saja tidak mengerti atau ingat segala sesuatu
yang ada di dalam Al-Qur’an itu; tapi bila kamu sering membacanya,
kamu akan berubah di luar dan di dalam. Itulah yang dilakukan Allah
dalam kehidupan kita”.
Asal Nama Bengkulu karena Aceh
Konon asal nama “Bengkulu” bermula dari perang kuno antara Aceh dengan
Sungai Serut. Pinangan Pangeran Muda dari Kerajaan Aceh ditolak oleh
Putri Gading Cempaka dari Kerajaan Sungai Serut, sehingga menimbulkan
perang. Soak Anak Dalam, saudara kandung Putri Gading Cempaka, Raja
Sungai Serut yang menggantikan Ratu Agung berteriak : “Empang ka Hulu
– Empang ka Hulu” yang artinya hadang mereka (orang Aceh) dan jangan
biarkan mereka menginjakkan kakinya di tanah kita.
Versi lain mengatakan perahu Pangeran Muda Aceh memasuki perbatasan
wilayah Kerajaan Sungai Serut. Ketika perahu-perahu itu hendak
memasuki wilayah Sungai Serut, kebetulan air laut sedang pasang naik.
Oleh sebab itu, banyak kotoran, reba-reba serta empang-empang yang
terbawa arus menghulu. Rombongan perahu Pangeran Muda itupun terkejut
melihat banyaknya empang menghulu yang mengganggu perahu-perahu mereka
yang akan menepi. Maka berteriaklah orang-orang Aceh itu : “Empang ka
Hulu !. Empang ka Hulu !”.
Wallahu a’lam.
Siapakah sosok yang disebut dengan Pangeran Muda Aceh itu ?.
Berikut saya sertakan silsilah Kerajaan Aceh :
1. Sultan Ali Mughayat Syah (1496 - 1528)
2. Sultan Salahuddin (1528 - 1537)
3. Sultan Alauddin al-Qahhar (1537 - 1568))
4. Sultan Husain Ali Riayat Syah (1568 - 1575)
5. Sultan Muda (1575)
6. Sultan Sri Alam (1575 - 1576)
7. Sultan Zainal Abidin (1576 - 1577)
8. Cucu Sultan Alauddin al-Qahhar (1576 - 1577)
9. Sultan Alauddin Mansyur Syah (1577 - 1589)
10. Sultan Buyong (1589 - 1596)
11. Sultan Alauddin Riayat Syah (1598 - 1604)
12. Sultan Ali Riayat Syah (1604 - 1607)
13. Sultan Iskandar Muda (1593 - 27 Des 1636)
14. Sultan Iskandar Thani A Mughayat Syah (1636 - 1641)
15. Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641 - 1675)
16. Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam (1675 - 1678)
17. Sri Ratu Zaqiatuddin Inayat Syah (1678 - 1688)
18. Sri Ratu Kamalat Syah Zinatuddin (1688 - 1699)
19. Sultan Badrul Alam Syarif Hashim (1699 - 1702)
20. Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702 - 1703)
21. Sultan Jamal ul Alam Badrul Munir (1703 - 1726)
22. Sultan Jauhar ul Alam Aminuddin (1726)
23. Sultan Syamsul Alam (1726 - 1727)
24. Sultan Alauddin Ahmad Syah (1727 - 1735)
25. Sultan Alauddin Johan Syah (1735 - 1750)
26. Sultan Mahmud Syah (1750 - 1764)
27. Sultan Badruddin (1764 - 1775)
28. Sultan Sulaiman Syah (1775 - 1781)
29. Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah (1781 - 1795)
30. Sultan Alauddin Jauhar ul Alam (1795 - 1815)
31. Sultan Syarif Saif ul Alam (1815 - 1818)
32. Sultan Alauddin Jauhar ul Alam (1818 - 1824)
33. Sultan Muhammad Syah (1824 - 1838)
34. Sultan Sulaiman Syah (1838 - 1857)
35. Sultan Mansyur Syah (1857 - 1870)
36. Sultan Mahnud Syah (1870 - 1874)
37. Sultan Muhammad Daud Syah (1874 - 1903)
38. Triumphvirat Endatu Tiro (1903 - 1936)
Note :
- Butir 18 tubuh dan suaranya gede kayak laki-laki tapi bukan “Dorce”
- Butir 30 dan butir 32 orangnya sama
Ada 2 (dua) kemungkinan mengenai “sosok” Pangeran Muda Aceh yang
perang dengan Kerajaan Sungai Serut, yaitu :
- Sultan Muda, yaitu Sultan Aceh yang ke-5
- Pangeran Meurah Pupok, Putra Mahkota, anak dari Sultan Iskandar Muda
(Sultan Aceh yang ke-13)
Sultan Muda
----------------
Sultan Muda adalah Sultan Aceh ke-5 yang diangkat tahun 1575 pada saat
kematian ayahnya, Sultan Husain Ali Riayat Syah. Sultan Muda sangat
menyukai perempuan, berjudi, dan minum arak. Ia memerintah dengan
kejam dan sewenang-wenang. Pemerasan dan penindasan yang dilakukannya
kepada para pedagang, membuat saudagar-saudagar dari India enggan
memasuki bandar-bandarnya. Pada masa pemerintahannya yang singkat,
pembunuhan, perampokan, penindasan, dan kerusuhan melanda Aceh karena
tidak adanya pelaksanaan hukum yang tegas dan teratur. Sultan Muda
mangkat dengan tiba-tiba.
Meurah Pupok
-------------------
Pangeran Muda Meurah Pupok “tidak sempat” jadi Sultan. Ketika Meurah
Pupok terbukti berselingkuh dengan istri seorang perwira Uleebalang
Kerajaan Aceh, dia dihukum rajam, menggunakan hukum Islam, sampai
tewas. Ketika Sultan Iskandar Muda ditanya mengapa dia sampai hati
melaksanakan hukuman mati terhadap anak kandungnya sendiri, Pangeran
Muda, Putra Mahkota, maka Sultan Iskandar Muda berkata : “Matee aneuk
meupat jeurat, matee adat pat ta mita”. Mafhumnya : Mati seorang
anak TAHU di mana kuburannya, tapi kalau mati adat TAK TAHU bagaimana
kesudahannya.
Pengganti Sultan Iskandar Muda adalah menantunya asal Johor, Sultan
Iskandar Thani.
Wallahu a’lam.
Hubungan antara Aceh dengan Bengkulu adalah dengan menjual lada dan
cengkeh asal Susoh (Aceh Barat Daya) dan Aceh Singkil ke Bengkulu yang
pada waktu itu dikuasai Inggris. Karena itu, hubungan perdagangan
antara Susoh, Singkil, dan Bengkulu menjadi hubungan yang bersifat
internasional. Sebab, rempah-rempah asal Aceh yang ada di Bengkulu
kemudian diekspor ke Eropa melalui laut.
Diriwayatkan juga Tengku Muhammad Arifin, anak seorang Pangeran asal
Bengkulu yang mempunyai hubungan dengan Kerajaan Aceh. Ia pernah
menikah dengan kemenakan Sultan Aceh. Ia berhasil meyakinkan Panglima
Tibang untuk menggunakan jasanya sebagai penerjemah karena mengaku
kenal baik dengan Konsul Amerika di Singapura, Mayor Struder.
Tengku Muhammad Arifin sebelumnya memang pernah bertemu dengan
Struder. Ketika itu ia meminta bantuan agar ayahnya kembali mendapat
mahkota kerajaan yang telah dicopot oleh Belanda.
Tabot di Bengkulu dan Aceh
-----------------------------------------
Tabot adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu untuk mengenang
tentang kisah kepahlawanan dan gugurnya cucu Nabi Muhammad saw, Hasan
dan Husein dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di
Padang Karbala tanggal 10 Muharram 61 H (681 M).
Istilah Tabot berasal dari kata Arab Tabut yang secara harfiah berarti
“kotak kayu” atau “peti”. Dalam Al-Qur’an kata Tabot dikenal sebagai
sebuah peti yang berisikan kitab Taurat. Bani Israil di masa Nabi Musa
as itu percaya bahwa mereka akan mendapatkan kebaikan bila Tabot ini
muncul dan berada di tangan pemimpin mereka. Sebaliknya mereka akan
mendapatkan malapetaka bila benda itu hilang.
Upacara Tabot ini semakin meluas dari Bengkulu ke : Painan, Padang,
Pariaman, Maninjau, Singkil, Meulaboh, Banda Aceh, dan Pidie. Artinya,
Tabot sampai juga ke Aceh.
Namun dalam perkembangannya, kegiatan Tabot menghilang di banyak
tempat. Hingga pada akhirnya hanya terdapat di dua tempat, yaitu di
Bengkulu dengan nama Tabot dan di Pariaman dengan sebutan Tabuik.
Keduanya sama, namun cara pelaksanaannya agak berbeda.
Satu di antara tahapan upacara Tabot yang harus ditaati adalah
“GAM” (tenang/berkabung). GAM adalah waktu yang tidak boleh ada
kegiatan apa pun. GAM berasal dari kata “ghum” yang berarti tertutup
atau terhalang. Tanggal 9 Muharram merupakan masa GAM ini. Sedangkan
di Aceh istilah GAM adalah untuk “Gerakan Aceh Merdeka”. He he he …
Siwar Bengkulu = Siwah Aceh
----------------------------------------------
SIWAR adalah senjata khas Bengkulu, gagangnya mirip rencong namun
membesar di ujungnya sementara bilah mirip dengan pedang Batak namun
ada sedikit lengkungan ke dalam. Penempatan gagang lebih kecil dari
bilah. Panjang antara 27 – 30 cm. Gagang biasanya berornamen bunga
atau tumbuhan.
Kalau di Aceh, SIWAR itu diucapkan atau disebut SIWAH, bentuknya sama,
hanya saja di Aceh ada yang sarung dan gagangnya terbuat dari tanduk
kerbau atau gading.
Sebelum rencong dikenal, masyarakat Aceh telah menggunakan senjata
yang disebut “siwah”. Jenis senjata ini tidak memiliki gagang,
sehingga cukup menyulitkan ketika digunakan untuk berperang, terutama
ketika senjata ini sudah berlumuran dengan darah. Senjata ini menjadi
licin dan mudah terlepas dari genggaman karena lumuran darah tersebut.
Oleh karena itu, atas perintah Sultan Alauddin al-Qahhar (Sultan Aceh
yang ke-3) yang berkuasa pada waktu itu, maka dipanggil para pandai
besi untuk mengubah “siwah” dengan model terbaru yang tidak
menyulitkan ketika digunakan untuk berperang. Para pandai besi ini
akhirnya menambahkan gagang yang berbentuk huruf “ba” (huruf kedua
dalam aksara Arab) pada “siwah” tersebut. Selanjutnya senjata ini
dikenal dengan nama “reuncong” atau “rincong”, di dalam bahasa
Indonesia disebut RENCONG.
Gempa Bengkulu mirip Gempa Aceh
-----------------------------------------------------
Bengkulu mengalami gempa pada tahun 1833, 1861, 1914, 1952, 1979,
1991, 1997, 2000, 2007, 2008
Aceh mengalami gempa pada tahun 1837, 1883 1907, 1948, 1990, 2002,
2003, 2004
Gempa Aceh 1 Januari 2004 (5,0 skala Richter) berpusat di laut, kurang
lebih 60 km dari Bengkulu Selatan. Demikian dijelaskan Kepala Humas
Meteorologi dan Geofisika, Pusat Gempa Bumi Nasional, Edison Gurning
kepada detik.com
Gempa berkekuatan sedang itu berepisentrum di 4,3 derajat LS dan 102,3
derajat BT, dengan kedalaman 30 km di Samudera Indonesia.
Gempa bumi yang mengguncang Bengkulu 12 September 2007 (7,9 skala
Richter) mirip dengan gempa besar yang pernah melanda Aceh 26 Desember
2004 (9,0 skala Richter). Namun karena sudut penunjamannya lebih
landai, gempa Bengkulu tidak menimbulkan tsunami.
Demikian dikatakan Sri Widiyantoro, Guru Besar Seismologi ITB.
“Penyebab gempa Bengkulu mirip dengan kasus gempa Aceh, yaitu
penunjaman lempeng Samudera Hindia ke bawah Palung Sunda yang berada
tepat di bawah Pulau Sumatera. Gerakan ini arahnya dari selatan ke
utara,” kata Sri seperti ditulis Antara.
Secara tektonik, gempa Bengkulu 2007 ini terjadi di prisma akresi
terangkat yang membentuk pulau-pulau Simelue-Banyak-Nias-Mentawai-
Enggano, tepat pada splay Mentawai Fault – sesar yang memisahkan
prisma akresi Sumatera dengan forearc basement Sumatera. Lokasi ini
sejalur dengan lokasi gempa Aceh 2004. Mengapa gempa Aceh menimbulkan
tsunami sedangkan gempa Bengkulu itu tidak ?. Jawabannya terletak pada
pematahan batuan kedua gempa itu. Gempa Aceh terjadi di percabangan
sesar (horse tail) Mentawai Fault yang membentuk restraining bend,
sehingga wilayah ini kompresif dan saat ditekan oleh konvergensi
lempeng akan cenderung thrusting. Sementara itu, gempa Bengkulu itu
benar-benar terjadi di strike-slip Fault Mentawai yang peluang-peluang
terbentuknya thrusting tidak terlalu besar.
Gempa Bengkulu 23 Februari 2008 (5,6 skala Richter) menurut BMG masih
satu cluster dengan gempa Aceh. “Gempa ini masih satu cluster dengan
gempa Aceh. Gempa Aceh masih menyisakan pelepasan energi,” ujar
Kepala Pusat Gempa BMG Suharjono, saat dihubungi okezone.com
Menurutnya, selama cluster itu belum mencapai keseimbangan,
kemungkinan untuk terjadi gempa mungkin saja terjadi.
Getaran gempa tersebut mencapai 2 mmi dan dirasakan hingga Padang.
Pusat gempa berada di 137 km sebelah barat Muko Muko atau di titik
koordinat 2,48 LS dan -99,89 BT.
Salam Syahril Bakhsir
Rujukan :
- Sejarah Sumatra, William Marsden, PT Remaja Rosdakarya, Bandung,
Cetakan Pertama, 1991
- Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh, M Nur El Ibrahimi
- Bencana Gempa dan Tsunami, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, Cetakan
Kedua, Juni 2005
- Etc
Read More...
Sungai Serut. Pinangan Pangeran Muda dari Kerajaan Aceh ditolak oleh
Putri Gading Cempaka dari Kerajaan Sungai Serut, sehingga menimbulkan
perang. Soak Anak Dalam, saudara kandung Putri Gading Cempaka, Raja
Sungai Serut yang menggantikan Ratu Agung berteriak : “Empang ka Hulu
– Empang ka Hulu” yang artinya hadang mereka (orang Aceh) dan jangan
biarkan mereka menginjakkan kakinya di tanah kita.
Versi lain mengatakan perahu Pangeran Muda Aceh memasuki perbatasan
wilayah Kerajaan Sungai Serut. Ketika perahu-perahu itu hendak
memasuki wilayah Sungai Serut, kebetulan air laut sedang pasang naik.
Oleh sebab itu, banyak kotoran, reba-reba serta empang-empang yang
terbawa arus menghulu. Rombongan perahu Pangeran Muda itupun terkejut
melihat banyaknya empang menghulu yang mengganggu perahu-perahu mereka
yang akan menepi. Maka berteriaklah orang-orang Aceh itu : “Empang ka
Hulu !. Empang ka Hulu !”.
Wallahu a’lam.
Siapakah sosok yang disebut dengan Pangeran Muda Aceh itu ?.
Berikut saya sertakan silsilah Kerajaan Aceh :
1. Sultan Ali Mughayat Syah (1496 - 1528)
2. Sultan Salahuddin (1528 - 1537)
3. Sultan Alauddin al-Qahhar (1537 - 1568))
4. Sultan Husain Ali Riayat Syah (1568 - 1575)
5. Sultan Muda (1575)
6. Sultan Sri Alam (1575 - 1576)
7. Sultan Zainal Abidin (1576 - 1577)
8. Cucu Sultan Alauddin al-Qahhar (1576 - 1577)
9. Sultan Alauddin Mansyur Syah (1577 - 1589)
10. Sultan Buyong (1589 - 1596)
11. Sultan Alauddin Riayat Syah (1598 - 1604)
12. Sultan Ali Riayat Syah (1604 - 1607)
13. Sultan Iskandar Muda (1593 - 27 Des 1636)
14. Sultan Iskandar Thani A Mughayat Syah (1636 - 1641)
15. Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641 - 1675)
16. Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam (1675 - 1678)
17. Sri Ratu Zaqiatuddin Inayat Syah (1678 - 1688)
18. Sri Ratu Kamalat Syah Zinatuddin (1688 - 1699)
19. Sultan Badrul Alam Syarif Hashim (1699 - 1702)
20. Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702 - 1703)
21. Sultan Jamal ul Alam Badrul Munir (1703 - 1726)
22. Sultan Jauhar ul Alam Aminuddin (1726)
23. Sultan Syamsul Alam (1726 - 1727)
24. Sultan Alauddin Ahmad Syah (1727 - 1735)
25. Sultan Alauddin Johan Syah (1735 - 1750)
26. Sultan Mahmud Syah (1750 - 1764)
27. Sultan Badruddin (1764 - 1775)
28. Sultan Sulaiman Syah (1775 - 1781)
29. Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah (1781 - 1795)
30. Sultan Alauddin Jauhar ul Alam (1795 - 1815)
31. Sultan Syarif Saif ul Alam (1815 - 1818)
32. Sultan Alauddin Jauhar ul Alam (1818 - 1824)
33. Sultan Muhammad Syah (1824 - 1838)
34. Sultan Sulaiman Syah (1838 - 1857)
35. Sultan Mansyur Syah (1857 - 1870)
36. Sultan Mahnud Syah (1870 - 1874)
37. Sultan Muhammad Daud Syah (1874 - 1903)
38. Triumphvirat Endatu Tiro (1903 - 1936)
Note :
- Butir 18 tubuh dan suaranya gede kayak laki-laki tapi bukan “Dorce”
- Butir 30 dan butir 32 orangnya sama
Ada 2 (dua) kemungkinan mengenai “sosok” Pangeran Muda Aceh yang
perang dengan Kerajaan Sungai Serut, yaitu :
- Sultan Muda, yaitu Sultan Aceh yang ke-5
- Pangeran Meurah Pupok, Putra Mahkota, anak dari Sultan Iskandar Muda
(Sultan Aceh yang ke-13)
Sultan Muda
----------------
Sultan Muda adalah Sultan Aceh ke-5 yang diangkat tahun 1575 pada saat
kematian ayahnya, Sultan Husain Ali Riayat Syah. Sultan Muda sangat
menyukai perempuan, berjudi, dan minum arak. Ia memerintah dengan
kejam dan sewenang-wenang. Pemerasan dan penindasan yang dilakukannya
kepada para pedagang, membuat saudagar-saudagar dari India enggan
memasuki bandar-bandarnya. Pada masa pemerintahannya yang singkat,
pembunuhan, perampokan, penindasan, dan kerusuhan melanda Aceh karena
tidak adanya pelaksanaan hukum yang tegas dan teratur. Sultan Muda
mangkat dengan tiba-tiba.
Meurah Pupok
-------------------
Pangeran Muda Meurah Pupok “tidak sempat” jadi Sultan. Ketika Meurah
Pupok terbukti berselingkuh dengan istri seorang perwira Uleebalang
Kerajaan Aceh, dia dihukum rajam, menggunakan hukum Islam, sampai
tewas. Ketika Sultan Iskandar Muda ditanya mengapa dia sampai hati
melaksanakan hukuman mati terhadap anak kandungnya sendiri, Pangeran
Muda, Putra Mahkota, maka Sultan Iskandar Muda berkata : “Matee aneuk
meupat jeurat, matee adat pat ta mita”. Mafhumnya : Mati seorang
anak TAHU di mana kuburannya, tapi kalau mati adat TAK TAHU bagaimana
kesudahannya.
Pengganti Sultan Iskandar Muda adalah menantunya asal Johor, Sultan
Iskandar Thani.
Wallahu a’lam.
Hubungan antara Aceh dengan Bengkulu adalah dengan menjual lada dan
cengkeh asal Susoh (Aceh Barat Daya) dan Aceh Singkil ke Bengkulu yang
pada waktu itu dikuasai Inggris. Karena itu, hubungan perdagangan
antara Susoh, Singkil, dan Bengkulu menjadi hubungan yang bersifat
internasional. Sebab, rempah-rempah asal Aceh yang ada di Bengkulu
kemudian diekspor ke Eropa melalui laut.
Diriwayatkan juga Tengku Muhammad Arifin, anak seorang Pangeran asal
Bengkulu yang mempunyai hubungan dengan Kerajaan Aceh. Ia pernah
menikah dengan kemenakan Sultan Aceh. Ia berhasil meyakinkan Panglima
Tibang untuk menggunakan jasanya sebagai penerjemah karena mengaku
kenal baik dengan Konsul Amerika di Singapura, Mayor Struder.
Tengku Muhammad Arifin sebelumnya memang pernah bertemu dengan
Struder. Ketika itu ia meminta bantuan agar ayahnya kembali mendapat
mahkota kerajaan yang telah dicopot oleh Belanda.
Tabot di Bengkulu dan Aceh
-----------------------------------------
Tabot adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu untuk mengenang
tentang kisah kepahlawanan dan gugurnya cucu Nabi Muhammad saw, Hasan
dan Husein dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di
Padang Karbala tanggal 10 Muharram 61 H (681 M).
Istilah Tabot berasal dari kata Arab Tabut yang secara harfiah berarti
“kotak kayu” atau “peti”. Dalam Al-Qur’an kata Tabot dikenal sebagai
sebuah peti yang berisikan kitab Taurat. Bani Israil di masa Nabi Musa
as itu percaya bahwa mereka akan mendapatkan kebaikan bila Tabot ini
muncul dan berada di tangan pemimpin mereka. Sebaliknya mereka akan
mendapatkan malapetaka bila benda itu hilang.
Upacara Tabot ini semakin meluas dari Bengkulu ke : Painan, Padang,
Pariaman, Maninjau, Singkil, Meulaboh, Banda Aceh, dan Pidie. Artinya,
Tabot sampai juga ke Aceh.
Namun dalam perkembangannya, kegiatan Tabot menghilang di banyak
tempat. Hingga pada akhirnya hanya terdapat di dua tempat, yaitu di
Bengkulu dengan nama Tabot dan di Pariaman dengan sebutan Tabuik.
Keduanya sama, namun cara pelaksanaannya agak berbeda.
Satu di antara tahapan upacara Tabot yang harus ditaati adalah
“GAM” (tenang/berkabung). GAM adalah waktu yang tidak boleh ada
kegiatan apa pun. GAM berasal dari kata “ghum” yang berarti tertutup
atau terhalang. Tanggal 9 Muharram merupakan masa GAM ini. Sedangkan
di Aceh istilah GAM adalah untuk “Gerakan Aceh Merdeka”. He he he …
Siwar Bengkulu = Siwah Aceh
----------------------------------------------
SIWAR adalah senjata khas Bengkulu, gagangnya mirip rencong namun
membesar di ujungnya sementara bilah mirip dengan pedang Batak namun
ada sedikit lengkungan ke dalam. Penempatan gagang lebih kecil dari
bilah. Panjang antara 27 – 30 cm. Gagang biasanya berornamen bunga
atau tumbuhan.
Kalau di Aceh, SIWAR itu diucapkan atau disebut SIWAH, bentuknya sama,
hanya saja di Aceh ada yang sarung dan gagangnya terbuat dari tanduk
kerbau atau gading.
Sebelum rencong dikenal, masyarakat Aceh telah menggunakan senjata
yang disebut “siwah”. Jenis senjata ini tidak memiliki gagang,
sehingga cukup menyulitkan ketika digunakan untuk berperang, terutama
ketika senjata ini sudah berlumuran dengan darah. Senjata ini menjadi
licin dan mudah terlepas dari genggaman karena lumuran darah tersebut.
Oleh karena itu, atas perintah Sultan Alauddin al-Qahhar (Sultan Aceh
yang ke-3) yang berkuasa pada waktu itu, maka dipanggil para pandai
besi untuk mengubah “siwah” dengan model terbaru yang tidak
menyulitkan ketika digunakan untuk berperang. Para pandai besi ini
akhirnya menambahkan gagang yang berbentuk huruf “ba” (huruf kedua
dalam aksara Arab) pada “siwah” tersebut. Selanjutnya senjata ini
dikenal dengan nama “reuncong” atau “rincong”, di dalam bahasa
Indonesia disebut RENCONG.
Gempa Bengkulu mirip Gempa Aceh
-----------------------------------------------------
Bengkulu mengalami gempa pada tahun 1833, 1861, 1914, 1952, 1979,
1991, 1997, 2000, 2007, 2008
Aceh mengalami gempa pada tahun 1837, 1883 1907, 1948, 1990, 2002,
2003, 2004
Gempa Aceh 1 Januari 2004 (5,0 skala Richter) berpusat di laut, kurang
lebih 60 km dari Bengkulu Selatan. Demikian dijelaskan Kepala Humas
Meteorologi dan Geofisika, Pusat Gempa Bumi Nasional, Edison Gurning
kepada detik.com
Gempa berkekuatan sedang itu berepisentrum di 4,3 derajat LS dan 102,3
derajat BT, dengan kedalaman 30 km di Samudera Indonesia.
Gempa bumi yang mengguncang Bengkulu 12 September 2007 (7,9 skala
Richter) mirip dengan gempa besar yang pernah melanda Aceh 26 Desember
2004 (9,0 skala Richter). Namun karena sudut penunjamannya lebih
landai, gempa Bengkulu tidak menimbulkan tsunami.
Demikian dikatakan Sri Widiyantoro, Guru Besar Seismologi ITB.
“Penyebab gempa Bengkulu mirip dengan kasus gempa Aceh, yaitu
penunjaman lempeng Samudera Hindia ke bawah Palung Sunda yang berada
tepat di bawah Pulau Sumatera. Gerakan ini arahnya dari selatan ke
utara,” kata Sri seperti ditulis Antara.
Secara tektonik, gempa Bengkulu 2007 ini terjadi di prisma akresi
terangkat yang membentuk pulau-pulau Simelue-Banyak-Nias-Mentawai-
Enggano, tepat pada splay Mentawai Fault – sesar yang memisahkan
prisma akresi Sumatera dengan forearc basement Sumatera. Lokasi ini
sejalur dengan lokasi gempa Aceh 2004. Mengapa gempa Aceh menimbulkan
tsunami sedangkan gempa Bengkulu itu tidak ?. Jawabannya terletak pada
pematahan batuan kedua gempa itu. Gempa Aceh terjadi di percabangan
sesar (horse tail) Mentawai Fault yang membentuk restraining bend,
sehingga wilayah ini kompresif dan saat ditekan oleh konvergensi
lempeng akan cenderung thrusting. Sementara itu, gempa Bengkulu itu
benar-benar terjadi di strike-slip Fault Mentawai yang peluang-peluang
terbentuknya thrusting tidak terlalu besar.
Gempa Bengkulu 23 Februari 2008 (5,6 skala Richter) menurut BMG masih
satu cluster dengan gempa Aceh. “Gempa ini masih satu cluster dengan
gempa Aceh. Gempa Aceh masih menyisakan pelepasan energi,” ujar
Kepala Pusat Gempa BMG Suharjono, saat dihubungi okezone.com
Menurutnya, selama cluster itu belum mencapai keseimbangan,
kemungkinan untuk terjadi gempa mungkin saja terjadi.
Getaran gempa tersebut mencapai 2 mmi dan dirasakan hingga Padang.
Pusat gempa berada di 137 km sebelah barat Muko Muko atau di titik
koordinat 2,48 LS dan -99,89 BT.
Salam Syahril Bakhsir
Rujukan :
- Sejarah Sumatra, William Marsden, PT Remaja Rosdakarya, Bandung,
Cetakan Pertama, 1991
- Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh, M Nur El Ibrahimi
- Bencana Gempa dan Tsunami, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, Cetakan
Kedua, Juni 2005
- Etc
Menghargai karya Orang Lain
Pagi ini saya dalam satu forum diskusi dengan Julia Suryakusuma. Tulisan-tulisannya, selain untuk The Jakarta Post juga untuk media-media lain. Tadi ia bercerita tentang tulisannya yang ternyata diterjemahkan oleh beberapa orang ke dalam bahasa Indonesia, Belanda, bahkan bahasa Perancis. Ia menemukan tulisan-tulisan itu dengan rasa heran, hingga bertanya "kenapa mereka tidak bilang ke saya? Kalau mereka minta izin saya pasti akan mengizinkan mereka memuatnya."
Beberapa waktu lalu ada kasus dimana foto karya Agah Permadi dipakai oleh salah satu penerbit untuk terbitan mereka tanpa menyebutkan bahkan tanpa seizin sang fotogafer. Foto Agah sendiri pernah saya ambil dari websitenya dengan meminta izin terlebih dahulu. Waktu itu akan saya gunakan untuk header blog Simpang Limo Bengkulu dan www.mycityblog.com/bengkulu. Ia mengizinkan dengan persyaratan tidak untuk komersial.
Di blog-blog kita dapat menemukan banyak sekali foto maupun tulisan yang diambil dari karya orang lain, bukan dari hasil pikir dan buah keterampilan si pengelola blog. Saya berharap pemuatan ini setelah mendapat izin dari sang penulis/fotografer. Bagaimana pun, sebebas-bebasnya kita ng-blog, tentunya kita tetap harus menghargai atau menghormati karya orang lain. Memberikan link yang jelas mungkin salah satu cara untuk memberikan penghargaan itu, meski tetap ada upaya untuk menghubungi si pemilik. Mereka, seperti juga saya juga, akan senang sekali kalau pengelola blog menyebutkan link sumber dengan jelas.
Di dalam websitenya, KITLV mengizinkan kita menggunakan dokumentasi yang mereka miliki. Ada banyak foto-foto Bengkulu tempo doeloe yang nangkring di blog-blog yang dikelola oleh blogger Bengkulu. Saya sangat menyukainya, tapi saya pun berharap kalau pemuatan ini menyebutkan dengan jelas dari mana sumbernya.
Sekedar sharing, sanak.
Beberapa waktu lalu ada kasus dimana foto karya Agah Permadi dipakai oleh salah satu penerbit untuk terbitan mereka tanpa menyebutkan bahkan tanpa seizin sang fotogafer. Foto Agah sendiri pernah saya ambil dari websitenya dengan meminta izin terlebih dahulu. Waktu itu akan saya gunakan untuk header blog Simpang Limo Bengkulu dan www.mycityblog.com/bengkulu. Ia mengizinkan dengan persyaratan tidak untuk komersial.
Di blog-blog kita dapat menemukan banyak sekali foto maupun tulisan yang diambil dari karya orang lain, bukan dari hasil pikir dan buah keterampilan si pengelola blog. Saya berharap pemuatan ini setelah mendapat izin dari sang penulis/fotografer. Bagaimana pun, sebebas-bebasnya kita ng-blog, tentunya kita tetap harus menghargai atau menghormati karya orang lain. Memberikan link yang jelas mungkin salah satu cara untuk memberikan penghargaan itu, meski tetap ada upaya untuk menghubungi si pemilik. Mereka, seperti juga saya juga, akan senang sekali kalau pengelola blog menyebutkan link sumber dengan jelas.
Di dalam websitenya, KITLV mengizinkan kita menggunakan dokumentasi yang mereka miliki. Ada banyak foto-foto Bengkulu tempo doeloe yang nangkring di blog-blog yang dikelola oleh blogger Bengkulu. Saya sangat menyukainya, tapi saya pun berharap kalau pemuatan ini menyebutkan dengan jelas dari mana sumbernya.
Sekedar sharing, sanak.
Bengkulu menjadi kota Bencoolen
Menyimak berita-berita koran beberapa hari terakhir ini saya benar-
benar prihatin dan bersedih. Menurut berita, salah satu dinas di Kota
Bengkulu masih tetap ngotot ingin mengubah nama kota Bengkulu menjadi
kota Bencoolen. Sudah banyak tanggapan yang diberikan oleh berbagai
orang dari latar belakang yang berbeda tentang hal ini, rata-rata
mereka tidak setuju kita mengubah nama kota Bengkulu menjadi kota
Bencoolen! Mengapa kita masih tetap ingin mengubah itu?
Secara sederhana saja, coba kita fikirkan bagaimana kita melafadzkan
kata Bencoolen. Apakah Bencoolen kita ucapkan dengan bunyi Bencoolen
(huruf C di tengah), atau berbunyi Benculin (juga dengan huruf C di
tengah), atau berbunyi Benkulen (seperti bahasa Belanda). Begitu juga
agar keseimbangan dalam tata bahasa tetap terjaga, apakah kita
menyebut Kota Bencoolen atau Bencoolen City ? Ingat kata Bencoolen
berasal dari pengucapan bahasa Inggris terhadap kata BENGKULUAN, yang
artinya Orang Bengkulu.
Saya fikir untuk apa kita mengubah nama asli yang telah diberikan
oleh para pendahulu kita, dengan nama yang diberikan oleh orang-orang
asing, yang datang belakangan. Alasan untuk lebih marketable juga
tidak bisa diterima, selama ini kita sudah gencar mempromosikan
Bengkulu dengan kata Bengkulu, bukan Bencoolen! Pergantian nama ini
akan membawa dampak kita harus mulai dari awal lagi dalam
memperkenalkan Provinsi dan Kota yang kita cintai ini. Nama Bencoolen
di jaman kini lebih tidak dikenal dari pada nama Bengkulu.
Hal lain yang lebih prinsip dan mutlak harus dipertimbangkan adalah
masalah aspek hukum tata-negara. Nama Provinsi Bengkulu dan Kota
Bengkulu itu ditetapkan berdasarkan Undang-Undang NKRI, yakni dalam
Undang-Undang tentang Pembentukan Provinsi Bengkulu. Kalau ingin
mengubah nama Kota Bengkulu, ubah dulu bunyi Undang-Undang tersebut,
tidak cukup hanya dengan mengajukan Perda baru. Mengubah undang-undang
negara bukan wewenang daerah tapi adalah wewenang pemerintah Republik
Indonesia!
Sudah selayaknya kita menghimbau pemerintah Kota Bengkulu agar tidak
usah mengubah nama Bengkulu, yang betul-betul trade-mark bangsa kita
sendiri. Banyak tugas-tugas lain yang lebih penting dan bermanfaat
yang perlu mendapatkan perhatian. Misalnya soal Warung Remang-Remang,
soal jalan dalam kota yang rusak, soal Pedagang Kaki-Lima, soal
penghijauan dan juga soal pengembangan taman-taman yang dapat
berfungsi sebagai paru-paru kota. Prioritaskan dulu kegiatan pada hal-
hal yang bermanfaat langsung terhadap warga kota, tunda dulu kegiatan-
kegiatan yang terkesan hanya sensasional dan kurang bermanfaat secara
langsung bagi kehidupan warga.
benar prihatin dan bersedih. Menurut berita, salah satu dinas di Kota
Bengkulu masih tetap ngotot ingin mengubah nama kota Bengkulu menjadi
kota Bencoolen. Sudah banyak tanggapan yang diberikan oleh berbagai
orang dari latar belakang yang berbeda tentang hal ini, rata-rata
mereka tidak setuju kita mengubah nama kota Bengkulu menjadi kota
Bencoolen! Mengapa kita masih tetap ingin mengubah itu?
Secara sederhana saja, coba kita fikirkan bagaimana kita melafadzkan
kata Bencoolen. Apakah Bencoolen kita ucapkan dengan bunyi Bencoolen
(huruf C di tengah), atau berbunyi Benculin (juga dengan huruf C di
tengah), atau berbunyi Benkulen (seperti bahasa Belanda). Begitu juga
agar keseimbangan dalam tata bahasa tetap terjaga, apakah kita
menyebut Kota Bencoolen atau Bencoolen City ? Ingat kata Bencoolen
berasal dari pengucapan bahasa Inggris terhadap kata BENGKULUAN, yang
artinya Orang Bengkulu.
Saya fikir untuk apa kita mengubah nama asli yang telah diberikan
oleh para pendahulu kita, dengan nama yang diberikan oleh orang-orang
asing, yang datang belakangan. Alasan untuk lebih marketable juga
tidak bisa diterima, selama ini kita sudah gencar mempromosikan
Bengkulu dengan kata Bengkulu, bukan Bencoolen! Pergantian nama ini
akan membawa dampak kita harus mulai dari awal lagi dalam
memperkenalkan Provinsi dan Kota yang kita cintai ini. Nama Bencoolen
di jaman kini lebih tidak dikenal dari pada nama Bengkulu.
Hal lain yang lebih prinsip dan mutlak harus dipertimbangkan adalah
masalah aspek hukum tata-negara. Nama Provinsi Bengkulu dan Kota
Bengkulu itu ditetapkan berdasarkan Undang-Undang NKRI, yakni dalam
Undang-Undang tentang Pembentukan Provinsi Bengkulu. Kalau ingin
mengubah nama Kota Bengkulu, ubah dulu bunyi Undang-Undang tersebut,
tidak cukup hanya dengan mengajukan Perda baru. Mengubah undang-undang
negara bukan wewenang daerah tapi adalah wewenang pemerintah Republik
Indonesia!
Sudah selayaknya kita menghimbau pemerintah Kota Bengkulu agar tidak
usah mengubah nama Bengkulu, yang betul-betul trade-mark bangsa kita
sendiri. Banyak tugas-tugas lain yang lebih penting dan bermanfaat
yang perlu mendapatkan perhatian. Misalnya soal Warung Remang-Remang,
soal jalan dalam kota yang rusak, soal Pedagang Kaki-Lima, soal
penghijauan dan juga soal pengembangan taman-taman yang dapat
berfungsi sebagai paru-paru kota. Prioritaskan dulu kegiatan pada hal-
hal yang bermanfaat langsung terhadap warga kota, tunda dulu kegiatan-
kegiatan yang terkesan hanya sensasional dan kurang bermanfaat secara
langsung bagi kehidupan warga.
************
Memang banyak versi mengenai asal-usul nama Bengkulu. Versi lain menyatakan
bahwa nama Bengkulu berasal dari kata Bangkai Ke hulu, yang menggambarkan
begitu banyaknya korban pada saat perang antara Aceh dan Sungai Serut. Ada
lagi versi lain dari Kerajaan Palembang, yang menyatakan bahwa kata Bengkulu
berasal dari kata Bangka di Hulu karena pantai Bengkulu yang sama indahnya
dengan pantai di pulau Bangka. Nama ini diberikan oleh Demang Lebar Daun,
salah satu petinggi Kerajaan Palembang pada masa itu. Versi Palembang ini juga banyak menuturkan asa muasal berbagai nama daerah2 lain yang dikunjungi oleh Demang Lebar Daun, misalnya :
1. Krui dari kata Keruhi, cara menangkap ikan diselokan dengan cara membuat
air menjadi keruh terlebih dahulu.
2. Sukadana, berasal dari kata bersuka2 (bergembira) dengan menari Dana.
3. Prabumulih, berasal dari kata Prabu Mulih (raja pulang), yakni tempat dimana Demang Lebar Daun disambut oleh rakyat ketika pulang dari kunjungan di daerah2.
Semoga nama asal muasal bengkulu bisa kembali seperti semula, dari kata
pinang yang hanyut ke hulu. Dan kisah Nantu Kesumo yang tidak banyak teman teman ketahui dapaat teman teman ceritakan ke sanak saudara.
Inilah akibat, bila sastra daerah tidak di turunkan ke generasi muda Bengkulu, jadi lupa sejarah negeri sendiri :) Mohon maaf bila ada kata yang tak berkenan.
Read More...
bahwa nama Bengkulu berasal dari kata Bangkai Ke hulu, yang menggambarkan
begitu banyaknya korban pada saat perang antara Aceh dan Sungai Serut. Ada
lagi versi lain dari Kerajaan Palembang, yang menyatakan bahwa kata Bengkulu
berasal dari kata Bangka di Hulu karena pantai Bengkulu yang sama indahnya
dengan pantai di pulau Bangka. Nama ini diberikan oleh Demang Lebar Daun,
salah satu petinggi Kerajaan Palembang pada masa itu. Versi Palembang ini juga banyak menuturkan asa muasal berbagai nama daerah2 lain yang dikunjungi oleh Demang Lebar Daun, misalnya :
1. Krui dari kata Keruhi, cara menangkap ikan diselokan dengan cara membuat
air menjadi keruh terlebih dahulu.
2. Sukadana, berasal dari kata bersuka2 (bergembira) dengan menari Dana.
3. Prabumulih, berasal dari kata Prabu Mulih (raja pulang), yakni tempat dimana Demang Lebar Daun disambut oleh rakyat ketika pulang dari kunjungan di daerah2.
Semoga nama asal muasal bengkulu bisa kembali seperti semula, dari kata
pinang yang hanyut ke hulu. Dan kisah Nantu Kesumo yang tidak banyak teman teman ketahui dapaat teman teman ceritakan ke sanak saudara.
Inilah akibat, bila sastra daerah tidak di turunkan ke generasi muda Bengkulu, jadi lupa sejarah negeri sendiri :) Mohon maaf bila ada kata yang tak berkenan.
Resolusi Bercinta 2009
KAMAR merupakan salah satu lokasi paling efektif untuk menciptakan indahnya "pertempuran". Namun, ajang bercinta yang hanya dilakukan di balik tembok memang akan menimbulkan rasa bosan dan jenuh, khususnya kaum hawa.
Nah, agar terbebas dari masalah yang satu ini, Anda dan pasangan harus mengubah kegiatan yang itu-itu saja dengan penyegaran dalam ajang bercinta. Salah satu langkah yang dapat ditempuh ialah menciptakan suasana berbeda.
Seperti dikutip Askmen, Kamis (1/1/2009), agar ajang bercinta di dalam kamar dapat menjadi momen yang menyenangkan, Anda berdua dapat melakukan resolusi bercinta di tahun 2009. Di antaranya:
Belajar bersama dari Kamasutra
Kamasutra memiliki pengaruh besar dalam ajang bercinta. Pasalnya, karya klasik tentang ketrampilan seks dan seni bercinta dari negeri India ini mampu memberikan sensasi kenikmatan yang berbeda. Oleh karena itu, belajar dari Kamasutra merupakan salah satu resolusi terbaik untuk menciptakan "pertempuran" yang menggoda.
Buat catatan tentang teknik bercinta
Membuat catatan-catatan mengenai teknik apa yang perlu diubah atau ditambahkan seusai bercinta adalah langkah penting. Sebab tak hanya membuat "pertempuran" kian memanas, namun Anda pun dapat mengetahui apa yang diinginkan pasangan.
Jadi jika menginginkan ajang bercinta yang berbeda dari biasanya, sudah saatnya Anda dan pasangan membuat catatan seusai bercinta.
Tambahkan durasi foreplay
Kaum hawa biasanya membutuhkan durasi yang cukup lama untuk mencapai puncak kenikmatan. Oleh karena itu, pria memiliki peran yang cukup besar untuk mendominasi sebuah "pertempuran".
Jika selama ini foreplay terasa kurang menggoda, ada baiknya Anda menambah durasi bercinta. Kurang lebih 20 menit merupakan waktu yang paling maksimal untuk wanita menikmati indahnya rangsangan sensual dari pasangan hingga membawanya ke puncak kenimatan
Read More...
Nah, agar terbebas dari masalah yang satu ini, Anda dan pasangan harus mengubah kegiatan yang itu-itu saja dengan penyegaran dalam ajang bercinta. Salah satu langkah yang dapat ditempuh ialah menciptakan suasana berbeda.
Seperti dikutip Askmen, Kamis (1/1/2009), agar ajang bercinta di dalam kamar dapat menjadi momen yang menyenangkan, Anda berdua dapat melakukan resolusi bercinta di tahun 2009. Di antaranya:
Belajar bersama dari Kamasutra
Kamasutra memiliki pengaruh besar dalam ajang bercinta. Pasalnya, karya klasik tentang ketrampilan seks dan seni bercinta dari negeri India ini mampu memberikan sensasi kenikmatan yang berbeda. Oleh karena itu, belajar dari Kamasutra merupakan salah satu resolusi terbaik untuk menciptakan "pertempuran" yang menggoda.
Buat catatan tentang teknik bercinta
Membuat catatan-catatan mengenai teknik apa yang perlu diubah atau ditambahkan seusai bercinta adalah langkah penting. Sebab tak hanya membuat "pertempuran" kian memanas, namun Anda pun dapat mengetahui apa yang diinginkan pasangan.
Jadi jika menginginkan ajang bercinta yang berbeda dari biasanya, sudah saatnya Anda dan pasangan membuat catatan seusai bercinta.
Tambahkan durasi foreplay
Kaum hawa biasanya membutuhkan durasi yang cukup lama untuk mencapai puncak kenikmatan. Oleh karena itu, pria memiliki peran yang cukup besar untuk mendominasi sebuah "pertempuran".
Jika selama ini foreplay terasa kurang menggoda, ada baiknya Anda menambah durasi bercinta. Kurang lebih 20 menit merupakan waktu yang paling maksimal untuk wanita menikmati indahnya rangsangan sensual dari pasangan hingga membawanya ke puncak kenimatan
Subscribe to:
Posts (Atom)
